Menghadapi Anak yang Mulai Tertarik dengan Lawan Jenis
Saat mendengar anak mulai naksir temannya, jangan langsung tidak mengindahkannya, Moms. Anda bisa menyikapinya dengan bijak seperti cara-cara berikut ini:
1. Bicara soal Hubungan
Meski masih anak kecil, Anda tidak perlu menunda-nunda untuk berbicara soal konsep berhubungan dengan lawan jenis. Sebagai orang tua, Anda tetap perlu tenang dan jadilah teman berbicara yang baik bersama anak.
"Orang tua harus tenang saat berbicara tentang hubungan, karena Anda harus menjaga pintu komunikasi tetap terbuka. Anda tidak boleh menertawakannya, atau memberi tahu anak-anak bahwa mereka masih terlalu muda untuk tertarik pada lawan jenis," jelas Bates.
2. Tanyakan Alasan Anak Naksir Temannya
Perbesar
Ilustrasi Anak Mulai Naksir Temannya. Foto: Shutterstock
Satu hal yang bisa dilakukan adalah bertanya mengapa si kecil menyukai temannya: "Mengapa kamu menyukai temanmu?", "Apakah dia orang yang lucu dan bisa membuatmu tertawa?", "Apa benar dia jago pelajaran olahraga?" dan semacamnya. Ya, Anda perlu fokus untuk menghargai setiap alasan mengapa anak naksir temannya. Hal ini sekaligus menunjukkan dukungan orang tua bagi kualitas batin dan kepercayaan diri si kecil.
3. Lakukan Pendekatan yang Nyaman
Mengutip laman Parents, jangan menghindari omongan atau bahkan melarangnya sama sekali ketika anak menceritakan ketertarikannya kepada temannya yang lawan jenis. Cobalah untuk menjadi seseorang yang selalu mendengarkan setiap ceritanya, dan jangan menertawakan apa pun yang dia katakan atau berusaha untuk mengabaikan perasaannya. Sebab, Anda perlu membuat anak tetap merasa nyaman, sehingga mau terbuka dengan situasi yang dialami.
4. Tetapkan Batas
Perbesar
ilustrasi anak laki-laki dan perempuan. Foto: Shutterstock
Peran orang tua penting dalam mengajari batasan-batasan ketika anak menyukai orang lain. Misalnya, jangan sampai menyukai berlebihan atau tidak boleh sampai menyentuh fisiknya. "Anda dapat memberi tahu anak bahwa mereka boleh bermain bersama di sekolah, tetapi tidak untuk berperilaku dengan fisik," jelas Asisten Profesor di The Chicago School of Professional Psychology, Cynthia Langtiw, Psy.D.
5. Ajari Tentang Penolakan
Wajar dalam sebuah hubungan, termasuk pertemanan, bisa mengalami konflik dan penolakan. Hal ini juga berlaku bagi anak yang mungkin telah menyatakan perasaan kepada teman lainnya, namun mendapat penolakan. Jelaskan bahwa penting untuk menghormati perasaannya, karena kemungkinan temannya lebih nyaman menjadi teman biasa.
"Tanyakan bagaimana perasaannya tentang penolakan itu, kemudian jelaskan bahwa teman-temannya yang lain tetap mendukung dan bisa menjadi teman bermainnya," tutup Profesor Psikologi University of California, Kristin Lagattuta, Ph.D.
Source : kumparan.com
