Tenggelam merupakan peristiwa yang bisa dialami siapa saja, termasuk orang yang mahir berenang. Tenggelam dapat menyebabkan korban kesulitan bernapas bahkan setelah keluar dari permukaan air. Kondisi ini dikenal dengan nama dry drowning dan berisiko dialami anak-anak.
Apa itu Dry Drowning?
Pernahkah Anda mendengar istilah dry drowning? Dilansir dari Cleveland Clinic, sebenarnya dry drowning bukanlah istilah medis. Namun, istilah dry drowning kerap digunakan untuk menyebut komplikasi langka yang dapat terjadi setelah tenggelam dan lebih sering dialami anak-anak. Selain dry drowning, ada juga istilah secondary drowning yang menggambarkan tahapan komplikasi tenggelam.
Dry drowning dan secondary drowning merupakan kondisi gangguan akibat cedera di bawah permukaan air. Dry drowning adalah kondisi gangguan pernapasan akibat masuknya air ke saluran napas melalui mulut atau hidung. Pada dry drowning, air tidak masuk ke paru-paru namun dapat menyebabkan kejang pada saluran pernapasan. Akibatnya, otot saluran napas menutup sehingga anak sulit bernapas.
Sedangkan pada secondary drowning, air masuk ke saluran paru-paru dan menyebabkan peradangan lapisan paru. Kondisi ini menyebabkan cairan menumpuk atau yang dikenal dengan edema paru.
Baik dry drowning dan secondary drowning merupakan komplikasi langka akibat tenggelam. Anak yang tenggelam tidak selalu mengalami kedua komplikasi tersebut. Tetapi jika komplikasi tersebut tidak segera ditangani, keduanya dapat menyebabkan kematian.
Gejala Dry Drowning pada Anak
Dlansir WebMD, komplikasi tenggelam pada anak dapat ditandai dengan:
- Sering terbatuk
- Nyeri di dada
- Sulit bernapas
- Merasa kelelahan
- Perubahan perilaku seperti mudah marah akibat kekurangan oksigen
Menurut Medical News Today, Anda perlu segera memeriksakan anak ke dokter jika dalam 2-3 jam setelah keluar dari permukaan air mengalami gejala di atas. Termasuk jika gejala semakin memburuk dalam 8 jam pertama, maka sebaiknya anak segera mendapat perawatan medis.
Source : ai-care.id
