Masalah yang Sering Terjadi pada Kulit Bayi dan Cara Mengatasinya

Jumat, 17 September 2021 | 12:58 WIB Penulis :


Ketika Ibu masuk minimarket, pasti ada satu rak khusus produk bayi lengkap mulai dari kepala hingga ujung kaki. Ada berbagai merk produk yang menawarkan keunggulan berupa aroma, kemasan, serta komposisi kandungan sesuai kebutuhan usia anak. Bayi baru lahir tentunya membutuhkan perawatan kulit yang diformulasikan khusus untuk kondisi kulitnya.  

Kalau ditanya alasannya, mungkin sebagian besar Ibu menjawab, “Namanya juga bayi, ya kulitnya sensitif!”. Hmm, sebenarnya kenapa sih kulit bayi itu perlu perhatian ekstra?

Mengapa Kulit Bayi Sensitif?

Dikutip dari Everymum, lapisan pelindung kulit bayi 30% lebih tipis dari orang dewasa dan lebih mudah kehilangan kelembaban. Tak heran kalau kulit bayi baru lahir cenderung mudah kering dan mengalami iritasi.

Kulit bayi juga rentan terhadap perubahan temperatur. Pasalnya, selama 9 bulan berada dalam kandungan, bayi dilindungi oleh vernix yaitu lapisan zat lemak yang melekat kulit. Nah, lapisan ini berperan layaknya selimut yang menjaga suhu tubuh dan kelembaban kulit saat si kecil terendam dalam air ketuban.

Begitu bayi lahir, maka ia harus siap menyesuaikan diri dengan perubahan suhu lingkungan yang ekstrem. Kulit bayi akan cepat kering karena beralih dari lingkungan rahim yang lembab ke udara kering. Itulah mengapa sangat penting menjaga anak tetap hangat dan lembab.

Kulit bayi tak hanya sensitif terhadap perubahan suhu, lapisan kulit yang belum sempurna juga membuat Ibu harus berhati-hati agar tidak ada partikel asing yang menyebabkan iritasi.

Penyakit kulit pada bayi sangat mungkin terjadi mengingat kulitnya masih sangat sensitif jadi wajib Ibu waspadai!

4 Masalah Kulit pada Bayi yang Perlu Ibu Waspadai

Meskipun tidak berbahaya, masalah kulit pada bayi di bawah ini bisa mengganggu kenyamanan anak. Tentu Ibu tidak tega melihat si kecil menangis dan menggaruk-garuk kulitnya sampai susah tidur, kan? 

Yuk pelajari apa saja penyebab dan gejala penyakit kulit pada bayi!

  1. Biang Keringat

    Biang Keringat

    Biang keringat (miliaria) terjadi akibat penyumbatan pada pori kulit, sehingga keringat tidak dapat keluar. Pada bayi, miliaria terjadi karena pori-pori kulit anak lebih kecil dibandingkan pori-pori kulit orang dewasa. Kelenjar keringat bayi pun belum terbentuk dengan sempurna sehingga keringat mudah tertahan di kulit. 

    Gejala:  

    • Muncul bintil-bintil kecil atau ruam berwarna merah di tempat menumpuknya keringat seperti lipatan kulit atau area yang tertutup pakaian: leher, perut, dada, atau pantat. 

    • Rasa gatal atau rasa perih dan tajam pada ruam.

  2. Ruam Susu

    Ruam Susu

    Meski disebut ruam susu, sebenarnya gangguan kulit ini tidak disebabkan karena ASI atau proses menyusui lho. Umumnya, ruam pada bayi baru lahir ini terjadi karena anak disusui oleh Ibu dengan riwayat alergi. 

    Ruam dapat terjadi setelah Ibu mengkonsumsi makanan rentan alergi seperti telur atau ayam. Selain itu, kondisi ini juga dapat dipicu oleh polusi udara, suhu panas, tungau atau kuman kecil yang ada di udara atau menempel pada benda seperti bantal dan selimut. 

    Gejala:

    Dikutip dari laman Healthfully, ruam kemerahan tidak hanya muncul di bagian pipi, namun bisa melebar hingga lipatan leher,  hidung, dahi, bahu, lengan, siku, dada, lutut, serta pantat.

  3. Ruam Popok

    Ruam Popok

    Sesuai namanya, ruam popok (diaper rash) terjadi karena iritasi/peradangan pada kulit bayi akibat penggunaan popok. Penyebab ruam popok umumnya adalah paparan urine dan feses yang terkumpul di dalam popok. Bisa juga terjadi karena pemakaian popok yang terlalu ketat, infeksi bakteri, atau penyakit kulit pada bayi.

    Gejala:

    Muncul ruam kemerahan pada kulit bayi di area pemakaian popok seperti pantat, lipatan paha, dan kelamin.

  4. Dermatitis

    Dermatitis

    Berdasarkan ciri dan gejalanya, dermatitis dibagi dalam tiga kategori:

    • Dermatitis atopic (eksim): Paling sering menimpa bayi. Gejalanya berupa ruam merah yang menyebabkan gatal di lipatan-lipatan kulit seperti siku, bagian belakang lutut dan leher. Ruam susu tergolong dermatitis atopik, yakni kondisi kambuhan (hilang-timbul) dan dapat berlangsung lama. 

    • Dermatitis kontak: Penyakit kulit pada bayi ini terjadi akibat kontak langsung dengan zat yang menyebabkan iritasi kulit dan reaksi alergi seperti sabun bayi atau essential oil. Gejalanya, muncul ruam merah ringan sampai dengan yang terasa panas, perih hingga mengakibatkan luka melepuh.

    • Dermatitis seboroik (ketombe): Umumnya terjadi pada area berminyak tubuh, seperti wajah, dada bagian atas, dan punggung. Gejalanya berupa kulit yang memerah, bersisik dan ketombe membandel. 

Cara Merawat Kulit Bayi Sensitif

Kunci dari perawatan kulit bayi baru lahir adalah menjaga kulit tetap sehat, lembab, serta sebisa mungkin mencegah iritasi atau alergi yang berasal dari asupan makanan Ibu, kebersihan lingkungan, serta pemakaian produk perawatan kulit.   

  1. Tidak Memandikan Bayi Terlalu Lama

    Tidak Memandikan Bayi Terlalu Lama

    Jangan terlalu lama memandikan bayi ya Bu, usahakan maksimal 7 menit. Terlalu lama berendam bisa menurunkan suhu tubuh bayi dan membuat kulitnya lebih kering. Perhatikan juga hal-hal berikut:

    • Jangan merendam bayi dalam bak penuh sabun. Apalagi jika sabun bayi memiliki kandungan deterjen berbahaya atau punya kandungan irritan. 

    • Bersihkan atau mandikan anak secara teratur menggunakan air  air suam kuku (36-47º Celsius) setidaknya 2–3 kali seminggu untuk bayi berusia di bawah 3 minggu.

    • Oleskan lotion atau pelembab bayi segera setelah mandi saat kulitnya masih basah. 

    • Untuk mengeringkan badan, tepuk kering kulit bayi secara lembut tanpa menggosoknya.

  2. Rutin Mengganti Popok dan Menjaga Kebersihan

    Rutin Mengganti Popok dan Menjaga Kebersihan

    Untuk mengatasi ruam popok, Ibu perlu memperhatikan hal berikut ya agar kulit si kecil senantiasa terlindungi:

    • Ganti popok bayi ketika mulai terlihat basah atau lembab agar ia merasa nyaman.

    • Bersihkan area kelamin menggunakan tisu basah khusus bayi atau dengan air hangat saat mengganti popok.

    • Pastikan ukuran popok yang digunakan sesuai dengan tubuh anak agar kulitnya tidak lecet.

    • Pastikan sprei, bantal, guling juga rutin dicuci dan bersih dari debu serta tungau.

  3. Cegah Masalah Kulit pada Bayi dengan Memilih Sabun Bayi yang Tepat

    Cegah Masalah Kulit pada Bayi dengan Memilih Sabun Bayi yang Tepat

    Masalah kulit pada bayi memang bisa disembuhkan dengan obat salep sesuai resep dokter. Meski salep mampu mengurangi ruam, namun kondisi ini bisa kambuh lagi sewaktu-waktu.

    Nah, salah satu cara paling efektif adalah melakukan pencegahan dengan menghindari kontak yang menyebabkan alergi dan menggunakan sabun bayi yang tepat.

    Jika kulit si kecil sangat sensitif, tentu sabun yang dipakai tidak boleh sembarangan. Sebaiknya Ibu memilih produk tanpa kandungan SLS (Sodium Lauryl Sulfate), karena SLS bisa menyebabkan kelembaban alami kulit bayi tergerus.

    Ibu harus jeli mengenali kandungan SLS pada produk perawatan kulit bayi, biasanya kandungan ini ditulis sebagai Sodium Laureth Sulfate, Sodium Myrate Sulfate, maupun Anionik Surfactant, dan masih banyak lagi nama lain dari SLS. 

    Cara mengetahui apakah suatu produk mengandung SLS atau deterjen itu mudah sekali. Karena produk SLS menyerap kelembaban kulit, pasti rasanya keset di kulit dan ketika dipakai busanya banyak. 

    Dilansir dari Baby Center, penggunaan sabun bayi dengan kandungan SLS memiliki bahaya berikut:

    • Menyebabkan iritasi kulit bahkan dermatitis atau peradangan pada kulit tubuh

    • Mengikis lemak pada kulit yang berfungsi sebagai pelindung radikal bebas

    • Membuat kulit kering, sensitif, kasar, kemerahan, hingga kulit mengelupas

    • Menyebabkan iritasi berupa kemerahan dan pedih di mata jika terkena produk

Apapun permasalahan kulitnya tetap harus mandi karena perlu dibersihkan agar kulitnya juga mengalami proses regenerasi dan tetap bersih.  Masalahnya mandi dengan apa agar jika kulit bermasalah dan tetap mandi tapi bisa membantu proses penyembuhan atau pemulihan kulit. 

Duh, seram ya Bu? Untungnya kini sudah ada produk sabun bayi dengan klaim tanpa SLS. Salah satunya adalah PUREBB Liquid Soap for Baby’s Sensitive Skin. Sabun bayi ini didesain khusus untuk perawatan kulit sensitif yang mengalami iritasi ringan atau gangguan kulit lainnya seperti dermatitis, ruam, alergi dan biang keringat.

Rawat Kulit Bayi Sensitif dengan PUREBB Liquid Soap

Sabun bayi keluaran PUREBB mengusung klaim No Added SLS, paraben-free, dengan komposisi triple moisturizer dari bahan-bahan alami yang aman dan beresiko rendah (low hazard ingredients) yang memiliki keunggulan berikut:

  • Oat Kernel Extract (Avena sativa)

    Oat dikenal mampu melembabkan, menyejukkan, dan menenangkan permukaan kulit yang gatal dan perih karena iritasi. Apalagi pure BB Liquid Soap dilengkapi kandungan oat kernel yang memiliki komponen aktif oat sehingga ampuh jaga kelembaban kulit.

  • Chamommile Extract (Matricaria recutita) 

    Ekstrak Chamomile memiliki kandungan allantoin yang bantu atasi ruam merah akibat iritasi. Chamomile juga dikenal mampu meregenerasi sel kulit dan bekerja menangkal radikal bebas yang dapat merusak kulit. 

  • D-Panthenol

    Panthenol adalah Pro vit B5 yang memiliki kemampuan mengikat air lebih lama dan menstabilkan metabolisme permukaan kulit. Pro Vit B5 juga mampu menjaga keseimbangan alami kulit karena mampu menembus lapisan kulit dalam. 

Nah, dengan kombinasi bahan alami tersebut, PUREBB Liquid Soap juga mampu mencegah terjadinya iritasi atau masalah kulit pada bayi dengan cara:

  • Membantu mengurangi rasa gatal, perih, dan tidak nyaman pada kulit bayi.

  • Membantu mengatasi ruam atau kemerahan pada kulit bayi akibat iritasi.

  • Mengikat air lebih lama sehingga bantu kulit bayi lebih lembab.

PUREBB Liquid Soap untuk Mengatasi Masalah Pada Kulit Bayi

PUREBB Liquid Soap tersedia dalam botol pump dengan ukuran 80ml & 230 ml. Pemakaiannya tuangkan di waslap, beri sedikit air, lalu usapkan di tubuh anak 2 kali sehari untuk melindungi si kecil dari iritasi, atau langsung aplikasi ke tubuh. Teksturnya yang cenderung kental dan tidak lengket membuat pemakaian sabun bayi ini lebih hemat karena hanya butuh beberapa tetes saja. Kemasan 80ml juga mudah dibawa kemana-mana. 

Sesuai dengan klaim tanpa SLS atau deterjen, maka jangan harap ada busa melimpah ya Bu. Efeknya, kulit anak pun tidak terasa kesat sehabis mandi, efeknya lebih kepada lembab atau sedikit licin karena tinggi moisturizer. Dengan pH 5.5, sabun bayi PUREBB yang memiliki aroma lembut dan tidak pedih di mata ini aman digunakan untuk kulit sensitif. 

Sabun bayi PUREBB juga memberikan jaminan kualitas karena dari bahan baku, proses produksi, kemasan, sampai produk siap edar diawasi langsung dengan standar kualitas GMP (Good Manufacturing Practice) Farmasi, bukan sekedar cosmetic baby biasa. 

Yuk cegah masalah kulit pada bayi dengan bijak memilih produk mandi yang tepat! Memandikan anak bisa menguatkan bonding antara Ibu dan si kecil, jadikan aktivitas tersebut makin menyenangkan dengan penggunaan sabun bayi yang tepat.

Tak perlu busa melimpah atau bau semerbak, yang penting kulit bayi bersih, lembab, nyaman, serta bebas dari iritasi dan ruam kemerahan yang bikin anak tersiksa. Untuk itu, pastikan pilih produk tanpa kandungan SLS seperti PUREBB Liquid Soap yang merupakan salah satu produk dari brand yang sudah berumur 10 tahun ini dan di perusahaan farmasi standar GMP. Ingat kulit sensitif,  kulit bayi,  kulit newborn dan premature baby gunakan PUREBB Liquid Soap. 

 

Source : www.ibupedia.com

Artikel Lainnya

Pemilihan bahan dan pembuatan MPASI untuk bayi rasanya kurang lengkap bila tidak disertai dengan cara menyimpan yang tepat. Sebaik apa pun kualitas bahan yang dipilih dan sehebat apa pun teknik pemasa...

Mom termasuk orang yang senang mengonsumsi teh setiap hari bahkan ketika hamil? Bila mom menanyakan keamanannya, jawabannya ya, namun ada resiko ibu hamil minum teh berlebihan yang perlu di waspadai. ...

Tumbuh kembang anak optimal karena makanan sehat sudah semestinya menjadi jurus setiap keluarga. Salah satu faktor yang cukup memiliki peranan dalam tumbuh kembang anak adalah asup...

Memasuki usia dua tahun, anak perlahan-lahan sedang mengalami transisi dari bayi ke usia balita. Keterampilan berbicara dan memahami bahasa verbalnya semakin meningkat seiring dengan rasa ingin tahuny...

WhatsApp ×
Hai Mom, kami siap membantu anda ..
Kami Online
Senin - Jumat : 08:00 - 17:00 WIB
Minggu & Hari Besar kami LIBUR
Jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kami 🤗
......................................................