Tahukah anda apa saja tips mengawasi anak di playground? Playground adalah sebuah area atau tempat yang didesain khusus untuk anak-anak bermain dan beraktivitas fisik yang menyenangkan dan mengembangk...
Jumat, 02 Desember 2016 | 09:05 WIB Penulis : Erni Wulandari
Jangan sampai si kecil terkena pneumonia. Untuk itu Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pemberian vaksin, antara lain pneumococcal conjugate vaccine (PCV) untuk mencegah pneumonia pada anak. Vaksin ini bisa melawan segala jenis penyakit yang dipicu bakteri pneumokokus atau Streptococcus pneumoniae.
"Hak setiap anak untuk mendapatkan vaksinasi yang dibutuhkan dalam hidupnya. Imunisasi merupakan dasar yang paling kuat dalam sistem kesehatan masyarakat. Pertanyaannya apakah bisa dicegah? tentu saja bisa," ucap dr Nastiti Kaswandani, SpA(K), Ketua UKK Respilogi PP IDAI, Indonesi saat ditemui dalam Peringatan Pneumonia di Hitel Crown, Kota Bandung.Vaksin PCV saat ini ada yang disebut sebagai PCV-10 dan PCV-13. Perbedaannya adalah jumlah jenis strain bakteri yang terdapat di dalamnya. PCV-10 melindungi anak terhadap 10 jenis Streptococcus pneumoniae, yang merupakan bakteri yang dapat menyebabkan segala macam penyakit termasuk meningitis, pneumonia, infeksi telinga, infeksi darah, dan bahkan kematian. PCV-13 melindungi terhadap 13 jenis Streptococcus pneumoniae.
Vaksin ini diberikan sebanyak empat kali pada anak usia 2, 4, 6, dan 12 sampai 15 bulan untuk melindungi anak dari kuman yang dikenal sebagai bakteri pneumokokus.
Selain PVC, vaksin campak juga dapat menurunkan kejadian pneumonia. Vaksin batuk rejan atau pertusis dalam vaksin DPT juga bisa diberikan untuk menurunkan risiko pneumonia.
DPT atau DTP merupakan campuran dari tiga vaksin yaitu untuk mencegah penyakit difteri (yang menyerang tenggorokan), pertusis (batuk rejan), dan tetanus (infeksi akibat luka yang menimbulkan kejang-kejang). Vaksin Haemophilus influenzae type B (Hib) pun bisa mengurangi risiko pneumonia.
Menurut dr Nastiti pendistribusian vaksin untuk mencegah pneumonia meningkat dalam setahun terakhir. Angka pemakaian vaksin di Indonesia mencapai 51 persen.
Pencegahan bisa dimulai dari cara deteksi dini gejala pneumonia dan pemberian pengobatan yang cepat dan tepat. "Pencegahan, deteksi dini dan pengobatan yang tepat dapat menurunkan kematian akibat pneumonia," tuturnya.Menurutnya, akses terhadap layanan kesehatan dan ketersediaan obat, serta oksigen merupakan hal yang penting. Tantangan ini memerlukan perhatian lebih dari pemerintah sebagai upaya menurunkan angka kematian balita.
"Memberikan asupan gizi yang seimbang, pemberian ASI eksklusif, hindari paparan asap rokok, pemberian zinc pada kasus diare, dan cegah HIV," kata dia.
Pneumonia sampai saat ini masih menjadi masalah di Indonesia. dr Nastiti juga menyebut udara memiliki peran penting dalam penyebaran pneumonia.
"Kalau kualitas udara bersih mungkin tidak penyebaran bisa ditekan, tapi udara kotor adalah salah satu penyebaran yang memiliki peran penting. Dalam sebuah ruangan misalnya di lift kita sedang membawa anak mungkin saja di sana ada bekas orang bersin atau batuk," terangnya.
Tahukah anda apa saja tips mengawasi anak di playground? Playground adalah sebuah area atau tempat yang didesain khusus untuk anak-anak bermain dan beraktivitas fisik yang menyenangkan dan mengembangk...
Apakah Anda menyadari ketika memberikan anak hadiah mainan, dia akan bermain dengan mainan tersebut sesaat kemudian menjadi lebih tertarik dengan kardus mainannya? Riset terbaru membuktikan anak-anak ...
Masalah sosial bisa jadi dirasakan dan dialami oleh anak yang cadel karena ia tidak dapat berkomunikasi dengan seharusnya, selain itu kemungkinan masalah belajar juga dapat terjadi. Terutama, yang ber...
Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang ...
WhatsApp ×