Rumput laut kaya akan nutrisi misalnya vitamin, mineral dan serat. Makanan ini banyak dipakai oleh masakan Cina lebih dari 2000 tahun dan sebagai salah satu makanan yang kaya nutrisi. Nah, ...
Rabu, 24 Desember 2025 | 16:07 WIB Penulis :
Apa itu pola asuh overprotektif?
Pola asuh overprotektif atau overprotective adalah pengasuhan yang terlalu melindungi anak.
Biasanya, pola asuh ini dilakukan oleh orangtua yang terlalu khawatir terhadap risiko dan bahaya yang akan dialami oleh anaknya.
Beberapa ciri-ciri orangtua overprotektif antara lain:
Dampak buruk pada anak karena pengasuhan overprotektif
Segala sesuatu yang berlebihan (over) tentu tidaklah baik. Begitu juga dengan pengasuhan orangtua.
Bahkan pengasuhan orangtua overprotektif sebenarnya mengakibatkan lebih banyak dampak negatif daripada yang positif.
Apa saja dampak negatif yang dapat timbul akibat pengasuhan overprotektif? Berikut beberapa dampaknya terhadap tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan psikologinya.
1. Anak menjadi penakut dan tidak percaya diri
Ketakutan orangtua yang berlebihan akan membuat anak ikut merasa takut. Akibatnya, anak menjadi tidak percaya diri saat melakukan hal-hal di luar pengawasan orangtua.
Tidak hanya berefek saat masih kecil, pola asuh yang diterapkan akan ikut terbawa hingga dewasa dan membentuk kepribadian anak.
Menurut jurnal yang diterbitkan oleh Cambridge University Press, anak yang dibesarkan oleh orangtua yang overprotektif akan tumbuh menjadi pribadi yang berkecil hati, takut mengambil risiko, serta tidak percaya diri dan tidak punya inisiatif.
2. Sulit mengatasi masalahnya sendiri
Lauren Feiden, seorang psikolog dari Amerika Serikat menyatakan bahwa overprotective parenting dapat membuat anak terlalu bergantung pada orangtua dan sulit mengatasi masalahnya sendiri.
Selain itu, anak menjadi sulit mengambil keputusan karena orangtua terlalu terlibat jika dia menghadapi kesulitan.
Hal ini akan membuat anak akan selalu mengandalkan orangtua dalam menentukan atau menyelesaikan masalah dalam hidupnya.
3. Mudah berbohong
Orangtua overprotektif cenderung mengekang ruang gerak anak. Padahal anak butuh keleluasaan untuk mengembangkan diri. Jika merasa terlalu dibatasi, anak akan mencari celah dan akhirnya berbohong agar bisa lolos dari kekangan orangtua.
Selain itu, anak berbohong karena ingin menghindari hukuman akibat melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan orangtua.
4. Mudah cemas atau ansietas
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Kiri Clarke dari University of Reading di Inggris, kecemasan orangtua berefek signifikan pada kecemasan bahkan meningkatkan gejala ansietas pada anaknya.
Penelitian ini dilakukan terhadap 90 anak yang berada pada usia 7 sampai 12 tahun.
Hasilnya menunjukkan bahwa 60 anak mengalami gangguan kecemasan yang terpengaruh dari kecemasan berlebih dari orangtua mereka.
5. Mudah stres karena takut salah
Survei yang dilakukan oleh Center for Collegiate Mental Health di Amerika Serikat menunjukkan bahwa masalah kejiwaan sangat umum terjadi di kalangan mahasiswa.
Sekitar 55% mahasiswa menginginkan konseling tentang gejala gangguan kecemasan, 45% soal depresi, dan 43% soal stres.
Ternyata, salah satu faktor penyebabnya adalah pengawasan orangtua yang berlebihan terhadap kegiatan akademis dan nonakademis anak.
Pengawasan tanpa henti berisiko mengakibatkan anak mudah stres karena takut melakukan kesalahan.
6. Berisiko menjadi korban bully
Menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi dari University of Warwick, anak-anak yang diasuh dengan pola asuh yang keliru cenderung menjadi korban bully di sekolah.
Pola asuh yang keliru meliputi pengasuhan yang acuh tak acuh atau malah overprotektif.
Selain memperbaiki pola asuh, para psikolog menyarankan orangtua menjalin komunikasi yang baik dengan anak agar terhindar dari perundungan di lingkungan sekolah.
7. Meningkatkan risiko skizofrenia
Junpei Ishii, seorang psikiatri dari University Katsushika Medical Center, menjelaskan adanya hubungan antara skizofrenia dengan pola asuh yang keliru, terutama pola asuh overprotektif.
Penelitian yang dilakukan pada pasien skizofrenia menunjukkan bahwa 35% pasien yang diasuh dengan cara yang overprotektif sulit sembuh dari penyakit tersebut.
8. Berpotensi menyebabkan depresi
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh University of Tennessee terhadap sejumlah mahasiswa di Amerika Serikat menunjukkan bahwa mereka yang diasuh secara overprotektif di masa kecil berisiko mengalami depresi.
Gangguan depresi pada mahasiswa ini tidak dapat dianggap remeh. Hal ini karena depresi dapat memicu keinginan untuk mengonsumsi obat-obat penenang yang berisiko membahayakan kesehatan.
Bagaimana cara mengubah pola asuh overprotektif?
Pada dasarnya, melindungi anak adalah hal yang baik. Namun, terlalu berlebihan terbukti mengakibatkan banyak dampak buruk.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki pola asuh terhadap anak. Anda bisa menetapkan batasan-batasan sekaligus memberikan kebebasan dalam porsi yang seimbang.
Michael Ungar, ahli psikolog dari Dalhousie University Kanada, menyarankan agar orangtua memberikan tugas dan tanggung jawab sederhana kepada anak seiring pertambahan usia.
Untuk lebih jelasnya, Anda dapat menerapkan tips-tips berikut ini.
Sumber: hellosehat.com
Rumput laut kaya akan nutrisi misalnya vitamin, mineral dan serat. Makanan ini banyak dipakai oleh masakan Cina lebih dari 2000 tahun dan sebagai salah satu makanan yang kaya nutrisi. Nah, ...
Siapa pun tahu bahwa kelebihan garam berakibat buruk pada kesehatan. Itu sebabnya, banyak Bunda yang membatasi konsumsi garam pada anaknya, bahkan meniadakannya sama sekali. Padahal, garam merupakan s...
Ketika Moms memoles lipstik di bibir, apakah Si Kecil tampak memerhatikan Anda? Boleh jadi ia penasaran dan ingin memakainya juga. Kalau keinginannya itu Anda tolak, ia justru berontak dan menan...
Penyebab bercak merah tanpa demam pada kulit anak Ruam atau bercak merah merupakan kondisi yang sering kali timbul pada kulit anak dan biasanya bukan kondisi yang serius. Ini karena kulit anak lebi...
WhatsApp ×