Mata malas adalah gangguan penglihatan pada salah satu mata karena saraf yang menghubungkan otak dan mata tersebut tidak terhubung dengan baik. Akibatnya, kemampuan pengl...
Kamis, 06 Oktober 2016 | 13:29 WIB Penulis : Erni Wulandari
Menghukum anak dengan cara memukul lebih banyak dilakukan oleh orangtua zaman dulu.
Namun tak dimungkiri, metode hukuman ini masih banyak diterapkan oleh orangtua di era modern seperti sekarang. Anak sering dipukul dengan harapan ia akan lebih disiplin.
Sebenarnya, pukulan menjadi bagian dari hukuman orangtua pada anak, hingga sekarang masih menuai perdebatan di kalangan guru, psikolog, dan orangtua.
Menurut laporan dari Washington Post, sekarang ini semakin sedikit jumlah orangtua di Amerika Serikat yang menerapkan metode hukuman spank (memukul tanpa melukai) pada anak.
Kondisi ini pun menjadi kontras dengan laporan bahwa mayoritas orangtua di AS tetap mendukung metode hukuman spank.
National Association of Pediatric Nurse Practitioners (NAPNA) pada tahun 2011 sempat mengangkat isu metode menghukum dengan cara memukul seperti itu.
"Hukuman fisik memiliki faktor risiko penting, di mana anak-anak dapat mengembangkan pola perilaku impulsif dan anti sosial. Anak-anak yang lebih sering mengalami hukuman fisik lebih mungkin untuk terlibat dalam perilaku kekerasan di masa dewasa," jelas NAPNA. Jadi, anak yang sering dipukul akan tumbuh menjadi pelaku kekerasan.
Hampir mirip dengan NAPNA, pada tahun 2012, American Academy of Child and Adolescent Psychiatry, menyimpulkan bahwa hukuman fisik dapat mengubah perilaku anak dalam waktu singkat, meningkatkan keagresifan anak, dan dapat menurunkan moral perilaku anak.
Kesimpulannya, metode menghukum anak dengan cara memukul mungkin memang menolong orangtua untuk jangka pendek. Namun, sebenarnya cara tersebut dapat berbahaya bagi anak sendiri untuk efek jangka panjang.
Pasalnya, anak belajar, saat menyelesaikan masalah ada metode alternatif lainnya yakni dengan hukuman fisik. Daripada anak sering dipukul coba cari jalan lain seperti menerapkan konsekuensi.
Sumber : Kompas Female
Mata malas adalah gangguan penglihatan pada salah satu mata karena saraf yang menghubungkan otak dan mata tersebut tidak terhubung dengan baik. Akibatnya, kemampuan pengl...
Ternyata warna tidak asal warna saja, ada psikologi warna untuk anak yang dapat menjadi ciri khas mengapa seseorang memilih warna tersebut. Tiap warna juga diduga memiliki sifat psikologis berbeda-bed...
Tenggang Rasa Adalah: Memahami Empati dan Toleransi Tenggang rasa adalah kemampuan untuk memahami dan menghargai perasaan, pikiran, dan pengalaman orang lain. Ini melibatkan kemampuan untuk mene...
Orang tua mana yang tidak ingin anaknya cerdas dan pertumbuhannya sesuai usia? Tentu semua orang tua ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Nah, untuk mengetahui perkembangan dan kemampuan ...
WhatsApp ×