Dermatitis Atopik pada Bayi, Gunakan Sabun Tanpa SLS

Jumat, 17 September 2021 | 13:02 WIB Penulis :


Dermatitis atopik (eksim) adalah suatu kondisi yang membuat kulit kita merah dan gatal.

Profesor Diamant Thaci, kepala Pusat Pengobatan Inflamasi Komprehensif di Universitas Lubeck di Jerman, mengatakan bahwa dermatitis atopik, penyakit yang biasa ditemukan pada bayi dan anak-anak, sekarang menjadi salah satu kondisi kulit yang paling umum terjadi.

Penyakit ini merupakan jenis penyakit yang tahan lama (kronis) dan cenderung semakin parah setiap harinya.

Biasanya keadaan ini disertai dengan asma atau demam. Ruam kulit ini dapat terjadi di seluruh tubuh, tetapi paling sering terjadi pada tangan (terutama jari), bagian dalam siku atau punggung lutut, dan wajah serta kulit kepala pada anak-anak.

Tanda dermatitis atopik mungkin saja berbeda antara anak yang satu dengan yang lain. Maka dari itu, mari cari tahu gejala dan penyebab dermatitis atopik pada bayi dan anak.

Penyebab Dermatitis Atopik

Dermatitis Atopik Kontak Iritan, jenis ruam yang disertai gatal.jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Kulit bayi sangat sensitif dan terbilang tipis. Tak jarang dari mereka mengalami gangguan kulit, salah satunya dermatitis atopik (eksim). Ini adalah kondisi yang membuat kulit menjadi merah dan gatal.

Ini umum terjadi pada bayi, anak-anak atau dapat terjadi pada usia berapa pun. Masalah kulit ini memerlukan perawatan cukup lama dan cenderung kambuh secara berkala.

Penyebab dermatitis atopik bisa karena riwayat alergi keluarga. Jika orang tua menderita eksim, bayi kemungkinan besar juga akan mengalaminya.

Misalnya, karena bergesekan dengan benda yang memicu alergi, memungkinkan kuman masuk, juga bisa menjadi penyebabnya.

Dermatitis atopik terjadi ketika tubuh membuat terlalu sedikit sel lemak yang disebut ceramide. Jika tubuh tidak memilikinya dalam jumlah yang cukup, kulit akan kehilangan air dan menjadi sangat kering.

Mengutip dalam Kids Health, dermatitis atopik tidak terlihat sama pada setiap bayi. Pada bayi dengan warna kulit terang, biasanya muncul sebagai bercak kulit merah. Pada bayi yang berkulit lebih gelap, ruam mungkin terlihat keunguan, kecoklatan, atau keabu-abuan.

Biasanya, dermatitis atopik hampir sama dengan cradle cap pada bayi. Tetapi ada beberapa perbedaan utama.

Cradle cap tidak membuat kulit terlalu gatal dan iritasi. Biasanya hilang pada usia 8 bulan dan biasanya muncul di kulit kepala, sisi hidung, kelopak mata dan alis, dan di belakang telinga.

Sedangkan dermatitis atopik muncul di tempat tertentu dan akan timbul secara berkala.

 

Gejala Dermatitis Atopik pada Bayi

Dermatitis atopik pada bayi seringnya muncul pada usia 3 hingga 6 bulan, mengutip Children's National Hospital.

Gejala ruam kulit pada bayi bisa datang dan pergi, atau terjadi sebagian besar sepanjang waktu.

Area tubuh mana saja mungkin bisa terjadi. Pada bayi, gejala biasanya menyerang wajah, leher, kulit kepala, siku dan lutut.

Pada anak-anak, gejala biasanya menyerang kulit di dalam siku, di belakang lutut, di sisi leher, di sekitar mulut, dan di pergelangan tangan, pergelangan kaki, dan tangan.

Berikut gejala dermatitis atopik pada bayi yang lebih lengkap.

1. Kulit Kering

4 Ciri Dermatitis Atopik Bayi

Foto: nationaleczema.org

Tanda dermatitis atopik pada bayi adalah kulit yang sangat kering. Bahkan terkadang, karena kulit yang terlalu kering, kulit mereka bisa pecah-pecah sampai berdarah.

Kulit yang kering juga bisa menjadi awal dari tanda dermatitis atopik. Kulit akan mengalami iritasi dan memerah ketika Moms mulai menggaruk bagian kulit yang terasa gatal.

2. Gatal yang Cukup Parah

Hampir sama dengan semua jenis eksim, penderita dermatitis atopik pada bayi juga biasa merasakan gatal yang cukup parah. Gatal ini akan lebih buruk dirasakan pada malam hari.

Banyak bayi atau anak penderita ruam kulit, bahkan memiliki gangguan konsentrasi karena rasa gatal yang terus menerus mereka rasakan. Ada pula yang melaporkan mengalami gangguan tidur karena tidak dapat menahan rasa gatal pada kulitnya.

Baca Juga: 4 Cara Mengatasi Kulit Gatal Bayi Akibat Digigit Nyamuk

3. Bercak Merah

Dermatitis Atopik .jpg

Foto: Orami Photo Stocks

Meski tanda dermatitis atopik antara orang yang satu dengan yang lain terkadang berbeda, tapi hampir semua penderitanya pastilah memiliki bercak merah pada tubuhnya.

Bercak merah ini juga terkadang berwarna sedikit abu-abu kecokelatan, dan biasa ditemukan pada tangan, kaki, pergelangan kaki, pergelangan tangan, leher, dada bagian atas, kelopak mata. Pada bayi, bercak bahkan ditemukan di wajah dan kulit kepala.

Ruam tersebut dapat terasa sangat gatal atau bahkan panas. Jika digaruk, ruam bisa melepuh dan mengering di permukaan kulit.

4. Kulit Menebal, Pecah, dan Bersisik

Kegiatan menggaruk bagian kulit yang ruam atau yang terasa gatal bisa menyebabkan infeksi jika dilakukan terus-menerus.

Seluruh tanda dermatitis atopik pada bayi seperti kulit kering, gatal-gatal, dan inflamasi akan muncul dan menghilang. Selama ini terjadi, lapisan kulit akan menebal sehingga kulit terasa kasar.

Dan jika kondisi kulit tidak dilembapkan, kulit dapat menjadi pecah-pecah juga bersisik.

5. Kulit Super Sensitif

6 Jenis Dermatitis yang Dapat Terjadi pada Anak

Foto: Orami Photo Stocks

Kerusakan pada penghalang kulit dan sistem kekebalan yang terlalu aktif, dapat menyebabkan beberapa orang memiliki kulit yang sangat sensitif.

Biasanya orang dengan kulit sensitif akan merasakan sensasi terbakar, menyengat atau gatal saat menggunakan beberapa produk seperti sabun, busa mandi dan kosmetik.

Faktor lingkungan seperti udara yang terlalu panas atau dingin juga bisa memperparah rasa gatal.

Dermatitis atopik paling sering dimulai sebelum usia 5 tahun dan dapat bertahan hingga remaja dan dewasa.

Bagi sebagian orang, inflamasi akan terjadi secara berkala dan kemudian hilang untuk sementara waktu, bahkan selama beberapa tahun.

 

Mengatasi Dermatitis Atopik

memandikan bayi

Foto: Orami Photo Stock

Menurut American Academy of Dermatology (AAD), dermatitis atopik lebih banyak dialami oleh orang dengan status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi.

“Orang yang tumbuh dengan status sosial dan ekonomi yang tinggi biasanya jarang terekspos pada kotoran, sehingga sistem imunnya akan bereaksi berlebihan saat terkena sesuatu yang dianggap berbahaya,” jelas Temitayo Ogunleye, M.D. asisten profesor dermatologi di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania.

Pengobatan dan mengatasi dermatitis atopik bayi tergantung pada seberapa parah kondisinya. Tujuan pengobatan adalah meredakan gatal dan peradangan, menambah kelembapan, dan mencegah infeksi.

1. Menggunakan Pelembap

Mengutip Stanford Children, pelembap topikal adalah cara mengatasi rasa gatal akibat dermatitis atopik. Kulit harus sering dilembabkan idealnya, dua atau tiga kali sehari.

Waktu terbaik untuk mengaplikasikan pelembab bayu adalah setelah mandi atau berganti popok. Pelembab kaya akan kandungan air yang membantu kulit tetap terhidrasi.

2. Mandi Air Hangat

Dermatitis atopik pada Si Kecil bisa dengan terapi mandi air hangat. Karena mandi dapat membersihkan kulit dari kuman dan bakteri, oleh karena itu tetap harus mandi, tetapi tidak bisa mandi pakai sabun biasa, harus mandi dengan sabun khusus.

Ini dapat melembapkan dan mendinginkan kulit serta meredakan rasa gatal. Pastikan airnya tidak terlalu panas ya. Jaga agar waktu mandi tetap singkat dan tidak lebih dari 10 menit.

3. Hindari Sabun Kandungan SLS

Sabun yang mengandung pewangi, deodoran, dan antibakteri dapat membuat kulit sensitif bayi menjadi kasar. Sabun dengan kandungan SLS juga dapat menimbulkan masalah pada kulit sensitif.

SLS adalah bahan dasar aktif yang dipakai sabun mandi yang beredar di pasar.

Fungsi utama SLS adalah sebagai pembersih (Surfaktan) dan untuk membuat busa.

Sabun mandi yang mengandung busa berlebih dapat memicu kulit bayi menjadi kering dan iritasi. Pilihlah sabun yang khusus untuk kulit sensitif bayi dalam mengatasi dermatitis atopik.

PureBB, Sabun Bayi untuk Atasi Gatal pada Kulit Sensitif

Banner Purebb Liquid Soap 300x250px-01 (2).jpg

PureBB Liquid Soap dengan formulasi Low hazard dan No Added SLS atau tidak mengandung deterjen Sodium Lauryl Sulfate (SLS) atau Anionik Surfaktan. SLS bisa mengikis kelembapan kulit dan menjadikan kulit kering dan dapat memicu timbulnya iritasi dan masalah kulit.

Selain No Added SLS, Purebb Liquid Soap juga sudah Low Hazard. Dimana Low Hazard merupakan konsep internasional terbaru bahwa produk untuk bayi menggunakan bahan baku dan material yang aman atau rendah hazard levelnya.

Diperkaya Extra bahan alami Oat Kernel, Chamomile dan Pro Vit B5 yang melembabkan kulit. Allantoin yang terdapat dalam ekstrak Chamomile berfungsi mengatasi merah-merah akibat iritasi pada kulit bayi

Dengan kombinasi bahan alami, Purebb Liquid Soap membantu mengurangi rasa gatal dan merawat kulit bayi yang sensitive, juga sudah teruji klinis Dermatology Tested.

PureBB Liquid Soap dapat mengikat air lebih lama, menembus lapisan kulit ke lapisan dalam dan mampu meregenerasi jaringan kulit yang lebih elastis untuk menjadikan kulit bayi sensitif tetap halus dan lembut.

Terasa lembut di mata dengan kadar pH 5.5 yang sama dengan keasaman kulit bayi. Cocok untuk kulit bayi baru lahir, prematur dan sensitif dengan gejala dermatitis atopik.

Purebb Liquid Soap di produksi di perusahaan farmasi standar GMP (Good Manufacturing Practice), sehingga lebih aman dan terjamin. Purebb Liquid Soap merupakan salah satu produk dari brand yang sudah berumur 10 tahun ini dan brand yang meng-kampanye-kan Low Hazard.

Jangan tergiur oleh produk import yang harganya mahal atau produk harga murah dengan ukuran kemasan besar. Bijak dalam memilih produk yang aman untuk kulit si kecil.

 

Source: www.orami.co.id

Artikel Lainnya

Jarak yang terlalu dekat antara melahirkan dengan kehamilan berikutnya atau yang lebih dikenal dengan istilah hamil kesundulan ini, bukan hal yang jarang terjadi. Masih ASI dan belum haid lagi, kok...

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang belajar berjalan menggunakan baby walker lebih lama bisa berjalan dibanding bayi yang tidak menggunakan baby walker. “Penggunaan baby walker membu...

Meski diperbolehkan untuk tidak berpuasa saat menyusui, nyatanya banyak mom yang rindu ingin menjalankan ibadah puasa di bulan suci. Lalu bagaimana caranya mom menyusui puasa tetapi ASI bisa tetap lan...

Mama pasti sering menemukan si Kecil yang suka memasukkan benda apa saja ke dalam mulutnya. Nah, hal itu dilakukannya sebagai bentuk dari fase perkembangan area oromotor (otot daerah mulut dan pencern...

WhatsApp ×
Hai Mom, kami siap membantu anda ..
Kami Online
Senin - Jumat : 08:00 - 17:00 WIB
Minggu & Hari Besar kami LIBUR
Jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kami 🤗
......................................................