Apa itu Sensory Food Aversion Pada Bayi?

Kamis, 14 Maret 2024 | 16:20 WIB Penulis :


Si Pemilih makanan atau picky eaters adalah salah satu tantangan yang paling umum dihadapi orangtua. Kebiasaan memilih-milih makanan ini bahkan bisa terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 12 bulan. Selama tahapan kehidupan ini, bayi mengalami banyak hal baru, mulai dari makanan, lingkungan, hingga orang-orang yang baru ditemuinya. Tekstur, rasa, bau, warna, dan bentuk makanan yang baru dikenalnya ini membuat bayi merasa asing sehingga menyebabkan perilaku pilih-pilih makanan. 

Tetapi, selain faktor di atas, sebagian anak mengalami reaksi sensorik yang kuat terhadap jenis makanan tertentu. Inilah yang disebut dengan sensory food aversion (SFA).

 

Apa itu Sensory Food Aversion (SFA)?

 

Dilansir dari Nutrition for Kids, SFA menggambarkan sebuah reaksi sensorik yang berlebihan terhadap jenis makanan tertentu. Masalah ini dipicu oleh kualitas makanan tertentu, seperti rasa, tekstur, suhu, dan bau. 

SFA kebanyakan diderita oleh anak dengan gangguan pemrosesan sensorik yang didiagnosis atau gangguan spektrum autisme. Hal terkait tekstur dan konsistensi makanan merupakan masalah mendasar yang paling sering melatarbelakangi apakah anak mau mengonsumsi atau menolak makanan tertentu. 

 

Kesulitan Makan pada Bayi dengan SFA

Bayi mungkin dengan senang hati makan bubur saring yang sangat halus teksturnya. Tetapi ketika teksturnya mulai ditingkatkan menjadi sedikit lebih kasar atau kental, mereka mengalami kesulitan. Begitu pula kasusnya ketika beralih dari makanan yang biasa dikonsumsi dan disukainya berubah warna, merek, bahkan kemasan makanannya. 

Selama waktu makan, SFA dapat bermanifestasi menjadi penolakan untuk mencicipi atau menggigit makanan menjadi memuntahkan makanan sampai tersedak. Di lain waktu, bayi akan menolak suatu makanan hanya dengan melihatnya atau mencium aromanya. 

 

Tanda-Tanda Bayi Mengalami SFA

Dilansir dari jurnal Sensory Food Aversion in Infants and Toddlers yang ditulis oleh Irene Chatoor dan dipublikasikan di Zero to Three, tanda-tanda bayi mengalami SFA sebetulnya dapat terdeteksi sejak usianya masih beberapa minggu.

Bayi yang mengalami SFA punya kecenderungan pola mengisap yang berbeda pada beberapa bulan pertama kehidupannya. Mereka mengisap lebih dari 100 isapan per sesi makan ketimbang bayi yang di kemudian hari ditemukan punya perilaku makan yang normal. Bahkan, 17 persen dari bayi yang pemilih makanan menolak untuk mengisap sama sekali saat belajar minum ASI. 

Sementara ketika menginjak waktu makan makanan padat, bayi yang mengalami SFA terlihat sangat sensitif terhadap tekstur makanan, menyemburkan makanan, meringis, tersedak, dan memuntahkan makanan bayi. Terutama ketika menginjak tekstur MPASI tahap ketiga yang merupakan kombinasi bubur dengan gumpalan makanan lain di dalamnya. 

Pada sebagian bayi mungkin mengalami keengganan terhadap tekstur makanan tertentu, tetapi kadang-kadang bisa mentolerirnya setelah diberikan berulang-ulang. Tetapi pada bayi dengan SFA, kondisi ini membuat mereka sangat tertekan dan menyebabkan perlawanan yang lebih keras dari sebelumnya. 

Penyebab SFA Masih Belum Diketahui secara Pasti

Hingga kini, masih belum banyak penelitian yang dapat menjelaskan mengapa SFA terjadi. Namun, para ahli menduga ini diakibatkan input sensorik yang berlebihan. Input sensorik yang tidak sewajarnya ini mengakibatkan bayi mengalami kesulitan dalam memproses berbagai aspek makanan yang bervariasi dari segi warna, bau, bentuk, tekstur, bahkan hingga kemasannya. 

 

Source : https://www.popmama.com/

 

Artikel Lainnya

Saat memasuki usia 6 bulan, biasanya bayi mulai dikenalkan dengan makanan padat. Pemberian ASI pun diselingi dengan berbagai macam makanan pendamping atau MPASI. Pemberian MPASI pada Si Kecil ...

Ruam popok atau diaper rash adalah kondisi iritasi kulit yang umum dialami oleh bayi baru lahir hingga bayi berusia 1 tahun. Ruam popok membuat kulit bayi di area bokong kemerahan ...

1. Bayi belajar bicara sejak dalam kandungan Bayi sudah bisa mendengar suara Moms dan suara lain di luar kandungan sejak usia 23–24 minggu di dalam kandungan. Bahkan, bagi kebanyakan bayi, su...

Banyak mitos yang berkembang dan dijadikan acuan dalam perawatan kulit bayi. Misalnya, memandikan bayi dengan air dicampur antiseptik saat terkena biang keringat,  membubuhkan tepung kanji ke kul...

WhatsApp ×
Hai Mom, kami siap membantu anda ..
Kami Online
Senin - Jumat : 08:00 - 17:00 WIB
Minggu & Hari Besar kami LIBUR
Jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kami 🤗
......................................................