Ketika bayi tiba-tiba mengalami demam, kekhawatiran dan kecemasan sering kali melanda para orangtua. Demam pada bayi bisa menjadi petunjuk awal dari berbagai kondisi kesehatan yang memerlukan perhatia...

Rabu, 10 September 2025 | 13:31 WIB Penulis :
Biasanya, yang terjadi ketika anak tantrum adalah menangis, merengek, berguling-guling, melempar barang, atau memukul-mukul sesuatu.
Perilaku tantrum akan lebih parah ketika anak sulit mendeskripsikan perasaan atau hal-hal yang mereka inginkan.
Mungkin Anda akan menghadapi situasi ini ketika anak beranjak usia satu tahun hingga empat tahun.
Menghadapi anak yang tantrum memang menjadi tantangan bagi orang tua muda. Bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak penjelasan lengkap berikut ini!
Tantrum berbeda dengan rasa sedih dan kecewa seperti biasanya. Anak yang mengalami tantrum menggunakan seluruh energinya untuk meluapkan emosi.
Biasanya, luapan emosi tersebut ditunjukkan dengan melakukan beberapa hal berikut:
Sebenarnya tantrum adalah gejala normal yang biasa dialami anak kecil di bawah usia 4 tahun. Namun, ada beberapa anak yang sering tantrum dan ada juga anak yang tidak sering mengalami tantrum.
Tantrum adalah cara anak-anak menunjukkan bahwa mereka kecewa atau frustasi. Pada anak di bawah usia 4 tahun, kemampuan berbahasa mereka belum banyak berkembang dan kosakata yang diketahui pun terbatas.
Secara umum, tantrum bisa terjadi jika anak merasakan hal berikut:
Tantrum juga sebagai bentuk keinginan anak untuk melakukan atau mengendalikan sesuatu sendiri tetapi mereka tidak bisa melakukannya. Lalu, ketika menyadari tidak bisa melakukan hal yang diinginkan mereka akan tantrum.
Secara umum, ada dua tipe tantrum anak, yaitu tipe mengamuk dan manipulatif. Apa perbedaan keduanya? Berikut adalah penjelasannya.
Anak dengan tipe tantrum ini biasanya tidak menyadari bahwa tindakannya akan menarik perhatian banyak orang. Dia tantrum sebagai caranya mengekspresikan kekesalan.
Misalnya, ketika Anda sedang berjalan-jalan bersama anak, lalu dia meminta untuk membeli mainan tertentu. Namun, karena alasan tertentu, Anda tidak dapat memenuhi keinginannya.
Ketika mengetahui keinginannya tidak tercapai, dia akan mengamuk atau memukul benda di sekitarnya. Saat kesal, dia tidak akan sadar jika orang lain sedang memperhatikannya karena fokus meluapkan kemarahannya.
Kemarahan tersebut nantinya akan mereda sendiri.
Sebenarnya, gejala anak dengan tantrum manipulatif mirip dengan tipe tantrum mengamuk. Perbedaannya terletak pada tujuan anak saat tantrum.
Biasanya, anak dengan tipe tantrum manipulatif menggunakan amukan atau kekesalannya agar orang tua atau orang di sekitarnya memenuhi keinginannya. Anak juga akan menyadari bahwa rengekannya menarik perhatian banyak orang.
Sebagai contoh, saat Sahabat MIKA mengajak anak jalan-jalan. Dari pagi hingga siang hari, anak dalam kondisi baik-baik saja dan mood-nya sedang baik.
Pada sore hari, dia meminta dibelikan mainan yang disukainya. Namun, Anda menolak karena tidak bisa dapat memenuhi keinginannya. Kemudian, dia pun merengek, marah-marah, dan memukul lantai.
Dia menyadari bahwa orang di sekitar akan memperhatikannya. Anak sengaja melakukannya agar Anda membelikan mainan kesukaannya.
Setelah Anda membelikan mainan tersebut, tiba-tiba mood anak akan berubah dan kembali tersenyum.
Apabila anak mengalami tantrum, ada beberapa alternatif yang bisa Anda gunakan. Di antaranya adalah sebagai berikut.
Ketika anak tidak bisa diam, cobalah bawa ke tempat yang yang tenang.
Kalau sedang berada di rumah, Anda bisa menggunakan kamar tidurnya atau kamar tidur Anda. Apabila sedang berada di tempat umum, sebisa mungkin carilah sudut yang cukup sepi.
Berikanlah anak waktu untuk berada di ruangan itu sekira satu hingga lima menit. Tujuannya adalah meredakan emosinya.
Cara lain untuk mengatasi anak yang tantrum adalah dengan mendiamkannya sejenak, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Metode ini cukup efektif dilakukan jika anak tantrum untuk mencari perhatian orang tua atau orang di sekitarnya.
Jika dia sudah tenang, barulah Anda dapat menegur anak bahwa perilakunya tidak dapat diterima.
Lalu, bagaimana jika saat tantrum, anak merengek sambil memukul-mukul atau melempar barang?
Apabila ini terjadi, yang perlu Anda lakukan cukup menyingkiran barang-barang berbahaya di sekitarnya. Kemudian, tunggulah sampai kemarahannya reda.
Salah satu cara efektif untuk mengatasi tantrum anak adalah dengan mengalihkan perhatian anak.
Ketika anak tantrum, cobalah ajak mereka untuk melakukan aktivitas lain, semisal menggambar, baca buku cerita, atau bermain mainan.
Alternatif lainnya, cobalah alihkan perhatiannya pada sesuatu yang menarik di sekitarnya, misalnya melihat mobil yang melintas, melihat perilaku kucing yang menggemaskan, melihat bunga di sekitar, dan lain-lain.
Ketika anak merengek, Anda bisa mengakui atau memvalidasi perasaan dan keluhannya. Memvalidasi tidak sama dengan membenarkan apa yang anak inginkan, ya!
Gestur ini dilakukan agar anak tahu bahwa Anda memahami maksud dan keinginannya. Setelah itu, baru Anda bisa memberi pengertian kepadanya kenapa keinginannya tidak bisa dikabulkan.
Sebagai contoh Anda bisa memulai percakapan dengan kalimat berikut:
Memang salah satu cara terbaik menenangkan anak yang tantrum adalah dengan mendiamkannya sejenak. Namun, dalam beberapa situasi, Anda sebagai orang tua, juga harus menenangkan dan membuatnya merasa nyaman agar kekesalannya mereda.
Hal ini bukan berarti Anda harus memenuhi keinginannya, ya! Anda dapat memberikan pelukan dan mengajaknya untuk mengobrol dengan tenang. Hal ini akan membantu menjadi lebih tenang secara perlahan.
Waktu yang tepat untuk menenangkannya adalah jika tantrum terjadi ketika anak lapar atau kelelahan. Anda juga dapat langsung menenangkan anak yang sedang kesal jika terjadi di waktu dia makan atau tidur.
Apabila kekesalan anak mereda, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mencegah anak terlalu sering tantrum di kemudian hari. Di antaranya adalah sebagai berikut:
Berikut adalah beberapa hal yang bisa Anda lakukan saat kekesalan anak sudah mereda.
Berikanlah pujian ketika perilakunya membaik. Hal ini dilakukan agar dia mengetahui perilaku-perilaku apa saja yang dianggap baik dan mencegahnya mengulangi perilaku buruk di masa mendatang.
Saat tantrum, beberapa anak kerap memukul atau melempar barang. Jika diberi tahu hanya sekali bahwa perilaku tersebut dapat berbahaya, mungkin dia akan lupa dan mengulanginya di kemudian hari.
Terkadang, anak tantrum karena mereka sensitif atau merasa tidak mendapat perhatian.
Maka dari itu, Anda sebagai orang tua, dapat lebih mendekati anak saat mereka tidak tantrum. Anda bisa mencoba sering mengobrol, membaca buku bersama, atau aktivitas lainnya yang dilakukan bersama.
Dengan begitu, anak tahu bahwa Anda sangat perhatian padanya.
Rutinitas akan membuat anak mengetahui gambaran aktivitas yang akan dilakukan dan diulangi setiap hari. Menjaga melakukan aktivitas yang sudah terjadwal akan mengurangi kemungkinan anak tantrum.
Anak akan meneladani perilaku orang tuanya. Maka dari itu, Anda harus beri contoh bagaimana cara menghadapi masalah dengan tenang.
Apabila Anda memperlihatkan ketenangan saat menghadapi sebuah masalah, anak juga akan mencontoh perilaku Anda.
Bantulah anak untuk mengikuti jadwal tidurnya dengan tepat waktu setiap hari. Hal ini mencegah anak tantrum dikarenakan kelelahan.
Apabila anak tantrum secara berulang dan terdapat gejala yang makin parah, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengonsultasikan perilaku anak ke psikolog.
Psikolog dapat membantu Anda mengetahui akar masalah dan metode terapi yang tepat untuk mengurangi frekuensi tantrum.
Namun, apabila perilaku tantrum mempengaruhi kesehatan fisik anak, semisal jadi tidak mau makan, pola tidur terganggu, dan gangguan kesehatan fisik lainnya, sebaiknya Anda membawa anak ke dokter spesialis anak.
Alternatif lainnya, Anda bisa berkonsultasi pada psikolog dan dokter di saat yang sama. Psikolog akan membantu memberikan rekomendasi terapi dari sisi emosi anak. Sementara dokter spesialis anak akan membantu memastikan bahwa perilaku tantrum tidak mempengaruhi gaya hidup dan asupan nutrisi anak.
Source :www.mitrakeluarga.com
Ketika bayi tiba-tiba mengalami demam, kekhawatiran dan kecemasan sering kali melanda para orangtua. Demam pada bayi bisa menjadi petunjuk awal dari berbagai kondisi kesehatan yang memerlukan perhatia...
Fakta Menarik tentang Bayi Baru Lahir Kehadiran si Kecil akan memberikan kejutan tersendiri bagi orang tua yang akan merawatnya. Anda bisa mengetahui cara bayi mulai tersenyum atau menangis untuk p...
Muncul bintik-bintik merah yang sepertinya terasa gatal pada kulit bayi merupakan salah satu ciri utama biang keringat. Meski biasa terjadi, biang keringat pada bayi dapat menjadi tanda adanya ri...
Macam-macam warna pup bayi beserta artinya Beberapa hari setelah kelahirannya, warna BAB bayi normal dapat mengalami perubahan warna. Misalnya, dari warna hitam bisa menjadi kuning atau hij...
WhatsApp ×