“B-u bu, d-i di. Budi”. Masih ingatkah Ibu saat dulu belajar membaca? Kini giliran Ibu yang mengajari anak untuk membaca. Meski di sekolah ia sudah diajari, tapi ia juga membutuhkan ajaran...
Kamis, 30 Januari 2025 | 13:29 WIB Penulis :
Perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah kemampuan anak untuk sepenuhnya mengelola dan mengekspresikan emosi baik positif maupun negatif.Pembelajaran mengenai sosial emosional anak usia dini sangatlah penting terkhusus bagi para pendidik dan orang tua.Karena dalam sosial emosional inilah karakter anak-anak usia dini inilah yang menentukan bagaimana sikap dan karakter anak dalam bersosial dimasa yang akan datang Perkembangan sosial emosional anak perlu dikembangkan sejak dini, karena jika perkembangan sosial emosional anak terhambat maka anak akan mengalami kesulitan dalam bersosialisasi dengan orang-orang di lingkungan nyata dalam kehidupannya.
Dalam konteks inilah, artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang perkembangan sosial emosional pada anak usia dini.Sehingga diharapkan para orang tua,pengajar dapat menunjang dan memberi arahan dalam proses pembetukan karakter anak usia dini dan dapat mewujudkan generasi muda yang berkelakuan baik dan bertanggung jawab.
secara umum anak usia dini memiliki karakteristik yang relatif serupa antara satu dengan lainnya. Karakteristik tersebut adalah sebagai berikut:
Anak Usia Dini Bersifat Unik
1. Setiap anak berbeda antara satu dengan lainnya dan tidak ada dua anak yang sama persis meskipun mereka kembar identik. Mereka memiliki bawaan, ciri, minat, kesukaan dan latar belakang yang berbeda. Menurut Bredekamp (1987) anak memiliki keunikan tersendiri seperti dalam gaya belajar, minat, dan latar belakang keluarga. Keunikan dimiliki oleh masing-masing anak sesuai dengan bawaan, minat, kemampuan dan latar belakang budaya kehidupan yang berbeda satu sama lain. Meskipun terdapat pola urutan umum dalam perkembangan anak yang dapat diprediksi, namun pola perkembangan dan belajarnya tetap memiliki perbedaan satu sama lain.
2.Anak Usia Dini Berada Dalam Masa Potensial
Anak usia dini sering dikatakan berada dalam masa "golden age" atau masa yang paling potensial atau paling baik untuk belajar dan berkembang. Jika masa ini terlewati dengan tidak baik maka dapat berpengaruh pada perkembangan tahap selanjutnya.
Anak Usia Dini Bersifat Relatif Spontan
Pada masa ini anak akan bersikap apa adanya dan tidak pandai berpura-pura. Mereka akan dengan leluasa menyatakan pikiran dan perasaannya tanpa memedulikan tanggapan orang-orang di sekitarnya.
Anak Usia Dini Cenderung Ceroboh dan Kurang Perhitungan
Anak usia dini tidak mempertimbangkan bahaya atau tidaknya suatu tindakan. Jika mereka ingin melakukan maka akan dilakukannya meskipun hal tersebut dapat membuatnya cedera atau celaka.
3.Anak Usia Dini Bersifat Aktif dan Energik
Anak usia dini selalu bergerak dan tidak pernah bisa diam kecuali sedang tertidur. Maka sering kali dikatakan bahwa anak usia dini "tidak ada matinya" selalu aktif dan energik.
4.Anak Usia Dini Bersifat Egosentris
Mereka cenderung memandang segala sesuatu dari sudut pandanganya sendiri dan berdasar pada pamahamannya sendiri saja. Mereka juga menganggap semua benda yang diinginkannya adalah miliknya. Pada umumnya anak masih bersifat egosentris, ia melihat dunia dari sudut pandang dan kepentingannya sendiri. Hal itu bisa diamati ketika anak saling berebut main, atau menangis ketika menginginkan sesuatu namun tidak dipenuhi oleh orang tuanya. karakteristik ini terkait dengan perkembangan kognitif anak. Menurut Piaget, anak usia dini berada pada tahapan: 1) tahap sensori motorik, 2) tahap praoperasional, 3) tahap operasional konkret.
5.Anak Usia Dini Memiliki Rasa Ingin Tahu yang Kuat
Rasa ingin tahu yang dimilikinya sangat tinggi sehingga mereka tak bosan bertanya "apa ini dan apa itu" serta "mengapa begini dan mengapa begitu" Rasa Ingin Tahu Besar Anak berpandangan bahwa dunia ini dipenuhi hal-hal yang menarik dan menakjubkan. Hal ini mendorong rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu anak bervariasi, tergantung apa yang menarik perhatiannya. Rasa ingin tahu ini sangat baik dikembangkan untuk memberikan pengetahuan yang baru bagi anak dalam rangka mengembangkan kognitifnya. Semakin banyak pengetahuan yang didapat berdasar kepada rasa ingin tahu anak yang tinggi, semakin kaya daya pikir anak.
6.Anak Usia Dini Berjiwa Petualang
Karena rasa ingin tahunya yang besar dan kuat membuat anak usia dini ingin menjelajah berbagai tempat untuk memuaskan rasa ingin tahu tersebut dengan cara mengeksplor benda dan lingkungan di sekitarnya.
7.Anak Usia Dini Memiliki Imajinasi dan Fantasi yang Tinggi
Daya imajinasi dan fantasi anak sangat tinggi hingga terkadang banyak orang dewasa atau orang yang lebih tua menganggapnya sebagai pembohong dan suka membual. Namun sesungguhnya hal ini karena mereka suka sekali membayangkan hal-hal di luar logika. Anak memiliki dunianya sendiri, berbeda dengan orang dewasa. Mereka tertarik dengan hal-hal yang bersifat imajinatif sehingga mereka kaya dengan fantasi.
8.Anak Usia Dini Cenderung Mudah Frustrasi
Anak usia dini cenderung mudah putus asa dan bosan dengan segala hal yang dirasa sulit baginya. Mereka akan segera meninggalkan kegiatan atau permainan yang bahkan belum diselesaikannya.
Anak Usia Dini Memiliki 9.Rentang Perhatian yang Pendek
Rentang perhatian anak usia dini tidak terlalu panjang, itulah sebabnya mengapa mereka tidak bisa diam dan sulit diajak fokus pada kegiatan yang membutuhkan ketenangan. Pada umumnya anak sulit untuk berkonsentrasi. Ia selalu cepat mengalihkan perhatian dari kegiatan yang satu kepada kegiatan lainnya, kecuali kegiatan tersebut sangat menyenangkan dirinya. Rentang konsentrasi anak usia dini umumnya adalah sepuluh menit untuk dapat duduk dan memperhatikan sesuatu secara nyaman.
Perkembangan sosial anak usia dini mencakup:
1.Berinteraksi dengan teman sebaya, orang tua, dan orang dewasa
2.Belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma, moral, dan adat istiadat
3.Belajar bekerja sama dengan orang lain
Belajar berkomunikasi dengan orang lain
4.Belajar memahami emosi dan situasi yang terjadi di sekitarnya
5.Belajar untuk percaya diri, jujur, dan empati
6.Perkembangan sosial anak usia dini dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti:
*Faktor biologis, seperti 1.temperamen dan pengaruh genetik
2.Faktor lingkungan, seperti ekonomi, sosial, budaya, dan tempat tinggal
3.Faktor relasi, seperti orang tua, keluarga, teman sebaya, dan orang lain
4.Pola asuh orang tua
Keterlibatan orang tua dalam tumbuh kembang anak.
Source : kompasiana.com
“B-u bu, d-i di. Budi”. Masih ingatkah Ibu saat dulu belajar membaca? Kini giliran Ibu yang mengajari anak untuk membaca. Meski di sekolah ia sudah diajari, tapi ia juga membutuhkan ajaran...
Kelihatan nya lucu ya Bunda saat si kecil memasukan kaki mungilnya ke sepatu milik Bunda atau Ayah, karena dengan sepatu itu dia akan berusaha berjalan dengan normal. Tapi pada usia 2 tahun balita aka...
Diare menjadi salah satu gangguan kesehatan yang memang sering kali dialami oleh bayi di segala usia. Selain memperbanyak asupan cairan, Moms juga perlu memperhatikan apa saja yang dimakan oleh Si ...
Mendidik dan mengajarkan anak tidak hanya berpaku pada materi pendidikan secara formal, seperti membaca, menulis, atau berhitung. Namun, juga perlu diiringi dengan pendidikan karakter sehingga kece...