Jika putra-putri Anda sudah terbiasa mengonsumsi makanan dan kudapan manis setiap hari, tentunya akan butuh perjuangan untuk menghentikannya. Namun orang tua tak perlu khawatir karena panduan berikut ...
Jumat, 11 Januari 2019 | 08:46 WIB Penulis : Erni Wulandari
Tak terasa ya Mom, rasanya seperti baru kemarin anda melahirkan buah cinta anda ke dunia. Momen demi momen anda lewati bersamanya dengan penuh suka cita. Mulai dari momen lucu, menggemaskan sampai dengan momen bahagia yang rasanya sulit untuk dilupakan. Banyaknya hal yang anda lalui bersama dengan si bayi, membuat rasa cinta anda semakin hari semakin besar dan tak tergambarkan oleh kata-kata untuknya. Sehingga demikian, rasanya akan tidak mungkin bagi anda mengabaikan keinginannya atau tidak berada bersamanya.
Akan tetapi ada masanya perubahan akan terjadi pada apa yang biasa anda berikan untuk buah hati anda. Hal ini tentunya diberikan guna melanjutnya perubahan bayi dalam mendapatkan nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Ya, bila pada saat si kecil masih bayi cara mereka mendapatkan asupan nutrisi dan gizi hanya melalui ASI. Saat sudah cukup usia, akan ada perubahan dalam caranya mendapatkan asupan nutrisi ini, yakni dengan menghentikan ASI dan beralih pada makanan lain yang dapat mencukupi kebutuhan gizinya. Salah satu cara yang dilakukan dalam menghentikan kebiasaan meng-ASI pada si kecil seringkali disebut dengan ritual menyapih.
Hal inilah yang banyak dihadapi oleh banyak ibu pada saat menghadapi momen menyapih. Dilema antara keharusan dan kasih sayang yang begitu besar pada anak, seringkali menjadi masalah serius yang tak pernah selesai dihadapi oleh orangtua. Lantas bagaimana melakukan kegiatan menyapih yang baik dan efektif untuk si bayi?
Memulai penyapihan pada anak tentu tidak dapat dilakukan semudah dan secepat membalikan telapak tangan. Anda juga tidak bisa mengarapkan hari ini menyapih lalu dua dan tiga hari ke depan anak anda sudah menjadi “anti-ASI”. Sebaliknya mulailah dengan perlahan dan bertahap. Hal ini bukan hanya akan bermanfaat untuk si anak, namun juga untuk anda sendiri. Mengurangi frekuensi menyusu dengan perlahan akan membuat ASI berkurang secara bertahap. Dan tahukah anda, pengurangan perlahan ini akan penting guna mengurangi resiko payudara yang terasa nyeri dan bengkak.
Bila biasanya si kecil menyusu lewat payudara, maka mulailah membuat pilihan apa yang akan menggantikannya. Pilihlah pengganti yang tepat untuk menggantinya, apakah itu botol susu, sippy cup atau gelas biasa dengan menggunakan sedotan sebagai alat yang akan digunakan si buah hati untuk menikmati susunya. Selain itu, sebaiknya sediakan beberapa alternatif dan lihatlah mana yang lebih ia sukai. Dengan begini bunda akan lebih mudah menyajikan susu dalam kemasan yang disukainya.
Balita mau tidak mau belajar menahan diri untuk tidak menyusu di malam hari. Dalam hal ini perlu kerjasama ayah seperti menemani tidur, agar bayi tidak rewel ketika pisah dengan ibunya.
Biasanya si kecil akan selalu teringat dengan menyusu saat ia merasa haus atau lapar. Dengan begini mereka akan tergesa ingin berada bersama dengan ibunya dan langsung minta menetek. Untuk itu, sebaiknya antisipasi kondisi ini sebelum si kecil minta menyusu. Sebelum ia merasa lapar dan haus, sebaiknya tawarkn apakah ia ingin makanan atau minuman.
Jika niat sudah bulat, jangan luluh oleh rengekan bayi yang terus minta ASI lagi. Anda mesti disiplin. Jangan sampai hari pertama dan kedua berhasil, di hari ketiga Anda menyerah tidak tega dan program penyapihan pun gagal. Tunjukkan pada bayi, sekalipun tidak lagi mendapat ASI, tapi ia masih tetap mendapatkan kasih sayang yang besar dari ayah dan bundanya.
Namun, cari waktu yang pas untuk menyapih. Jangan sapih ketika balita dalam keadaan kurang sehat. Saat bayi masih butuh menyusu sebagai rasa aman. Tunggu dulu sampai ia sembuh.
Jika putra-putri Anda sudah terbiasa mengonsumsi makanan dan kudapan manis setiap hari, tentunya akan butuh perjuangan untuk menghentikannya. Namun orang tua tak perlu khawatir karena panduan berikut ...
Biang keringat cenderung kambuhan, terutama ketika suhu udara meningkat. Kurangi biang keringat dengan cara berikut : 1. Pilih Baju Berbahan Katun. Suhu dan kelembapan tinggi membuat si kecil mudah...
Pandemi Covid-19 masih menjadi momok menakutkan, terlebih dengan meningkatnya angka kejadian setiap harinya baik di indonesia maupun dunia. Meski tergolong virus mutasi yang baru, namun para peneliti ...
Anak batuk tidak berhenti tentu Bunda tidak tega melihatnya, apalagi jika disertai muntah dan mata berair. Untuk mengurangi batuknya Bunda sebaiknya menghindari memberi makanan dan minuman ini : 1....