Pembentukan karakter anak dimulai dari didikan orang tua dan lingkungan di sekitarnya. Salah satunya lewat momen yang dihabiskan bersama-sama anak di meja makan. Dengan kata lain, obrolan sa...
Selasa, 15 Januari 2019 | 09:07 WIB Penulis : Erni Wulandari
Moms, pernahkah memberikan Si Kecil julukan berdasarkan kelakuannya? “Iya nih, si kakak tukang ngompol”, “si cengeng”, “si penakut”, atau “si bandel” misalnya. Pertimbangkan sekali lagi Moms, jika ingin memberikan Si Kecil julukan tertentu. Faktanya, julukan semacam ini tidak baik lho Moms bagi perkembangan kepribadian Si Kecil.
Fenomena ini umum dikenal dengan istilah ‘labelling’. Menurut psikolog anak, remaja dan keluarga, Roslina Verauli, MPsi., secara klinis, labeling adalah sesuatu yang diberikan untuk memberikan diagnosis karena anak memberikan gejala-gejala tertentu. “Namun sayangnya label yang biasa kita berikan untuk masalah klinis, sering disalahgunakan di luar sana” ujar Roslina saat diwawancarai Nakita.id di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, pada Rabu (9/1/2019). Hal ini sering dilakukan para orangtua untuk memberi julukan pada Si Kecil kalau mereka termasuk ke dalam golongan tertentu. Dalam keadaan emosi biasanya orang tua akan dengan mudah melabeli Si Kecil. Ini biasanya terjadi secara tidak sengaja atau spontan, mengacu pada perilaku tertentu yang dilakukan Si Kecil.
Meski hanya sekedar kata-kata, saat label ini sudah masuk ke dalam alam bawah sadar Si Kecil, dampaknya akan permanen. Anak yang diberikan label “tukang ngompol” misalnya, kesannya si tukang ngompol ini akan selalu ngompol. Padahal kejadian ngompol ini bukan kejadian yang akan terus menerus terjadi sepanjang hidupnya.
Roslina mengatakan saat kita memberi label maka akan ada stigma tertentu yang melekat pada Si Kecil bahwa ia yang masih ngompol biasanya memalukan bagi orangtuanya, atau stigma lain yang dapat membuat Si Kecil tidak percaya diri. Umumnya orangtua tidak punya maksud sengaja melabeli Si Kecil. Dengan label tersebut, orangtua ingin agar Si Kecil berubah dan tidak mengulangi hal tersebut. Saat orangtua memberi julukan “tukang ngompol” pada Si Kecil, mereka berharap agar Si Kecil tidak lagi mengompol saat tidur, maka dari itu dikatakanlah ia si tukang ngompol. Namun dampaknya malah sebaliknya, menjadi kontra. Roslina menjelaskan, label yang diberikan oleh Moms atau Dads akan menjadi skema dalam alam berpikir Si Kecil, dan cenderung mengkristal.
Bayangkan jika Si Kecil yang disebut tukang ngompol ini punya stigma atau ciri negatif yang menempel pada kepribadiannya karena pengaruh lingkungannya tertentu tentang dirinya terkait ngompol. Ini akan melekat terus secara permanen, padahal yang dimaksud sebenarnya hanya gejala ngompolnya. “Gejala itu kan tidak permanen. Gejala bisa berubah, begitu juga dengan Si Kecil,” tutur Roslina. Ketika Si Kecil disebut “pemarah”, skema tadi akan menggiringnya menjadi pemarah dan memberi afirmasi atau penegasan pada dirinya untuk menjadi seperti apa yang dilabelkan padanya. Jadi, Roslina berpesan agar Moms dan Dads lebih berhati-hati jika ingin menyebut perilaku tertentu pada anak. “Sebut perilakunya, tapi jangan labeli anaknya,” tutup Roslina.
Sumber : nakita
Pembentukan karakter anak dimulai dari didikan orang tua dan lingkungan di sekitarnya. Salah satunya lewat momen yang dihabiskan bersama-sama anak di meja makan. Dengan kata lain, obrolan sa...
Cara memasak ternyata berperan menentukan kualitas nutrisi masakan. Dalam mengolah masakan biasanya kita hanya fokus memerhatikan bahan bakunya saja. Pastikan Bunda juga memerhatikan proses atau cara ...
Kesehatan sistem pencernaan anak berkaitan erat dengan tumbuh kembangnya. Hal ini dipengaruhi oleh penyerapan nutrisi yang dibutuhkan untuk daya tahan tubuh dan pertumbuhan Si Kecil. Oleh karena itu, ...
Yoga dapat membantu anak berolahraga dan mengembangkan imajinasinya secara bersamaan. Si kecil memiliki energi yang tidak ada habisnya dan yoga mampu membantu si kecil menyalurkan energi kearah yang l...
WhatsApp ×