Masalah sensori mungkin kesulitan dalam menerima, mengolah, atau merespons rangsangan dari lingkungan mereka, seperti suara, cahaya, tekstur, atau gerakan. Jenis-jenis masalah sensori pada anak san...
Selasa, 26 Februari 2019 | 09:10 WIB Penulis : Erni Wulandari
Apa yang menyenangkan dari jalan-jalan di alam bersama anak-anak? Berlari-lari dengan bertelanjang kaki dan bermain bola di pasir? Menginjak rumput basah? Melihat matahari terbenam? Mendaki sampai ke puncak? Atau memancing di danau? Selain menyenangkan, jalan-jalan di alam ternyata dapat mencerdaskan anak, lho, Moms.
Profesor Jaak Panksepp, ahli syaraf dari Washington State University, AS, menyatakan bahwa bermain di lingkungan terbuka dapat meningkatkan perkembangan otak anak-anak. Panskepp memperkenalkan istilah play system dan seeking system di dalam limbic otak yang menurutnya aktif bekerja saat anak-anak berada di lingkungan terbuka. Play system dan seeking system dapat terlatih dengan melalui eksplorasi dan belajar interaktif.
Play system akan terlatih ketika Mommy membiarkan anak mengubur kakinya dalam pasir, mengajak mereka berendam, atau menggelitik mereka dengan ranting pohon. Artinya, Mommy sedang memberikan stimulus pada sensorinya. Sedangkan seeking system akan terlatih setiap kali Anda mengajak anak-anak untuk mengeksplorasi hutan, pantai, pedesaan, atau kota tua. Kedua sistem ini akan mudah untuk menjadi tidak terlatih bila anak-anak hanya berdiam diri saja di dalam rumah.
Menurut Panskepp, ketika Mommy membawa anak-anak berlibur di alam, play & seeking system akan terlatih dengan baik. Hasilnya, otak akan mengalami pertumbuhan dan pematangan di lobus depan, bagian otak yang paling penting dalam fungsi kognitif dan kecerdasan sosial.
Tak hanya itu, mengeksplorasi alam juga dapat meningkatkan IQ anak-anak. Seorang psikoterapis anak di London, Dr. Margot Sunderland mengatakan bahwa lingkungan alam menawarkan berbagai pengalaman sosial, fisikal, kognisi, dan sensorik. Ia mengatakan, “Otak anak-anak yang biasa dirangsang dengan alam cenderung memiliki IQ yang lebih tinggi.”
Margot menjelaskan bahwa saat anak mengeksplorasi alam, maka ia akan mengaktifkan otak untuk lebih berkonsentrasi, membuat perencanaan, dan meningkatkan kemampuan untuk memahami. Dengan begitu, berada di alam dapat menjadi modal positif bagi pembelajaran anak-anak.
20 Menit di Alam
Dilansir dari telegraph.co.uk, menghabiskan waktu selama 20 menit di alam dapat meningkatkan perhatian dan konsentrasi anak-anak. Selain itu, pemandangan hijau juga dianggap sebagai obat yang baik untuk anak-anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan perkembangan motorik anak-anak yang menyebabkan aktivitas mereka cenderung berlebihan atau tidak lazim.
Siapkan koper Mommy sekeluarga, dan bersiaplah menjelajah alam!
Sumber : parenting
Masalah sensori mungkin kesulitan dalam menerima, mengolah, atau merespons rangsangan dari lingkungan mereka, seperti suara, cahaya, tekstur, atau gerakan. Jenis-jenis masalah sensori pada anak san...
Vitamin C kerap menjadi senjata andalan Bunda untuk membangun kekebalan tubuh si kecil, agar tidak gampang kena batuk dan pilek. Dan selama ini, jika membicarakan tentang buah-buahan yang mengandung v...
Selama ini banyak orang tua yang membiasakan anak rutin minum susu pada pagi hari dan malam sebelum tidur. Kebiasaan tersebut tidak salah, tapi ternyata penyerapan susu dalam tubuh anak jadi kurang op...
Anak Mudah Marah, Wajarkah? Contohnya saat menginginkan sesuatu dia harus mendapatkannya. contohnya si kecil main di taman dekat rumah, anak pun berperilaku seperti itu, langsung marah dan ngamuk kep...