Pertanyaan “kapan anak boleh mengakses sosial media?” kini bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan isu krusial yang menyangkut keamanan dan tumbuh kembang buah hati. Pemerintah...
Rabu, 11 Maret 2020 | 10:58 WIB Penulis : MotherandBaby
Depresi pada Laki-Laki Bisa Turunkan Peluang Kehamilan
Tentu sudah banyak yang menginformasikan tentang dampak buruk dari depresi. Selain bisa memengaruhi kesehatan tubuh, ternyata depresi juga bisa menurunkan peluang kehamilan. Kenapa itu bisa terjadi?
Banyak literatur kesehatan yang sudah membuktikan bahwa depresi merupakan salah satu faktor yang akan menghambat sekaligus menurunkan peluang terjadinya kehamilan.
Khusus tentang masalah kesuburan, depresi tidak hanya memberikan pengaruh pada wanita, namun ternyata juga pada laki-laki. Penelitian baru-baru ini menyebutkan bahwa depresi pada laki-laki akan jauh lebih kecil peluangnya untuk bisa mendapatkan keturunan dibandingkan depresi yang dialami wanita. Meskipun demikian, wanita yang mengalami depresi masih bisa berpeluang untuk membantu meningkatkan kesuburannya melalui beberapa perawatan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh National Institutes of Health menyimpulkan terdapat ketertarikan yang cukup luas antara kesuburan atau fertilitas dan depresi yang terjadi baik pada laki-laki atau wanita, termasuk juga perawatan untuk keduanya. Hasil penelitian tersebut juga menemukan bahwa konsumsi jenis anti depresi ternyata juga bisa meningkatkan risiko keguguran.
Penelitian Seputar Kesuburan
Ketika pasangan berusaha dan berjuang untuk program kehamilan, maka hal tersebut juga akan bisa memicu stres dan rasa kecewa sebesar 10 persen. Namun, dilihat dari sejarah, penelitian dan juga perawatan untuk meningkatkan kesuburan sendiri hanya fokus untuk tubuh wanita saja.
Sejak akhir abad ke-18, para dokter memberikan pandangan yang lebih luas tentang masalah fertilitas atau kesuburan ini. Mereka juga mempertimbangkan adanya pengaruh kesuburan laki-laki dalam keberhasilan program kehamilan.
Penanganan Masalah Kesuburan
Pada tahun 1970-an, teknologi IVF secara resmi diperkenalkan untuk membantu masalah kesuburan pada laki-laki dan perempuan yang ingin memiliki anak. Bahkan banyak pasangan suami istri yang menggunakan teknologi, hampir rata-rata mempunyai masalah pada kesuburan. Selain teknologi IVF, ada juga pasangan yang mengonsumsi obat-obat khusus untuk mengatasi masalah kesuburan hingga terapi hormon.
Meskipun menjalani berbagai terapi, penelitian juga akhirnya menemukan jika depresi akan tetap rentan dan menyerang setiap pasangan, khususnya pihak laki-laki.
Depresi Membawa Pengaruh Buruk untuk Laki-Laki
Beberapa tahun terakhir, para ilmuwan mulai melakukan analisis akan dampak mental dan juga emosional manusia pada tingkat kesuburan. Hasilnya, terungkap bahwa laki-laki yang mengalami depresi akan memiliki konsentrasi sperma lebih rendah di dalam mani mereka. Selain itu, hasil penelitian lain menemukan bahwa tingkat stres laki-laki akan juga memengaruhi ketahanan tubuh anak mereka nanti.
Peneliti di National Institutes of Health (NIH) melakukan pemeriksaan hasil penelitian sebelumnya dengan membandingkan sampel data dari 1.650 wanita dan juga 1.608 laki-laki. Penelitian ini menyimpulkan bahwa depresi yang dialami oleh laki-laki justru akan memberikan dampak jauh lebih buruk untuk kesuburan dibandingkan faktor lainnya. Bahkan depresi akan menurunkan peluang terjadi kehamilan hingga 60 persen.
Hubungan Kesehatan Mental dengan Kesuburan
Sampai dengan saat ini sudah banyak penelitian dan studi yang menemukan adanya hubungan antara kesehatan mental dan fisik dengan tingkat kesuburan. Oleh karena itu, ilmu kesehatan fokus tentang pentingnya mengobati depresi, baik untuk laki-laki dan juga para wanita.
Selain berpengaruh pada terhambatnya proses kehamilan, stres dan depresi sudah dibuktikan menjadi faktor yang menyebabkan masalah kesehatan tubuh secara fisik dan juga mental.
Jadi, Moms dan Dads, pastikan Anda bersama-sama mengurangi stres sebelum datang ke dokter kandungan untuk mulai program kehamilan. Tidak hanya mengurangi, pengelolaan stres itu juga penting, ya!
Source: MotherandBaby
Pertanyaan “kapan anak boleh mengakses sosial media?” kini bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan isu krusial yang menyangkut keamanan dan tumbuh kembang buah hati. Pemerintah...
Bagaimana cara mengatasi anak sering bangun malam? Akan repot sekali bila anak sering bangun malam saat tidur. Selain tidurnya jadi tidak berkualitas, Moms juga juga akan kelelahan dan tak bisa ber...
Karakteristik Anak yang Hiperaktif Terkadang sangat sulit membedakan anak yang aktif dan hiperaktif, karena biasanya sama-sama ditunjukkan dengan perilaku tidak bisa diam dan duduk tenang. Namun, t...
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian anak, jumlah sayur dan buah yang dikonsumsi dapat tergantung dari usia, jenis kelamin dan juga tingkat aktivitas fisik yang dilakukan anak. Dilansir dari laman&...
WhatsApp ×