Imunisasi lengkap bisa menjadi upaya mencegah pneumonia pada anak. Salah satunya dengan memberi anak imunisasi DPT dan Campak. Bagaimana kaitan vaksin tersebut dengan pneumonia? DPT adalah difteri ...
Kamis, 30 Mei 2024 | 10:49 WIB Penulis :
Moms, ada begitu banyak tipe kecerdasan yang dimiliki anak. Salah satunya, kecerdasan kinestetik.
Sama seperti namanya, anak dengan kecerdasan kinestetik memiliki kemampuan memproses informasi secara fisik, lewat gerakan tangan, tubuh, ekspresi, juga kontrol.
Tentunya, anak dengan tipe kecerdasan ini memiliki kelihaian bergerak lebih daripada anak lain.
Lingkungan kelas yang dirancang agar anak-anaknya duduk diam dan harus berkonsentrasi di kelas, bisa jadi merupakan hambatan bagi anak dengan kecerdasan kinestetik, lho!
Namun sayangnya, anak-anak yang kurang bisa berhasil belajar di ruang kelas seperti ini seringnya diberi label hiperaktif, ADD (Attention Deficit Disorder), atau ADHD (Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder).
Anak yang aktif belum tentu hiperaktif atau mengalami ADHD ya, Moms. Ada baiknya untuk konsultasikan juga dengan spesialis anak.
Lalu, bagaimana ciri-ciri lainnya dari anak dengan kecerdasan kinestetik? Serta bagaimana cara mendukungnya?
Jika dibandingkan dengan kecerdasan lainnya, kecerdasan kinestetik termasuk salah satu yang paling mudah dikenali.
ak dengan kecerdasan kinestetik adalah:
Si Kecil dengan kecerdasan kinestetik sangat menikmati aktivitas yang mengharuskan mereka banyak bergerak.
Berolahraga, menari, atau gerakan-gerakan kreatif lainnya, sudah pasti menjadi aktivitas favoritnya.
Saat sedang mengobservasi lingkungannya, anak dengan tipe kecerdasan ini tidak ragu menyentuh objek yang membuatnya penasaran.
Anak dengan kecerdasan kinestetik juga memiliki kemampuan motorik kasar yang sangat baik.
Dalam proses pembelajaran mereka, anak-anak tak akan ragu berkontak langsung dengan sesuatu di sekitarnya.
Ada anak yang suka membaca buku berjam-jam, namun ada yang tidak.
Anak dengan kecerdasan kinestetik juga lebih memilih mencoba hal baru secara langsung ketimbang menyimaknya hanya lewat buku.
Selain itu, mereka juga tertarik dengan interaksi bersama komputer atau keyboard ketimbang sekadar membaca buku.
Ciri-ciri lain anak dengan kecerdasan kinestetik adalah gemar bereksperimen, berakting, melakukan demonstrasi, hingga bermain adu peran atau role play.
Eksperimen dan penelitian di laboratorium bisa jadi aktivitas yang sangat menarik bagi mereka.
Kelebihan dan ciri-ciri lain dari anak dengan kecerdasan kinestetik adalah memiliki koordinasi gerakan yang sangat baik.
Itu sebabnya mereka bisa sangat berprestasi dalam bidang yang mengharuskan banyak gerakan fisik seperti berolahraga.
Mengutip Child First, anak dengan kecerdasan kinestetik lebih menyukai cara belajar dengan melibatkan indera peraba atau sensory teaching.
Moms bisa memakai lego, kotak karton, kaleng, atau bentuk bangun ruang lainnya untuk membantu mereka memvisualisasikan soal matematika.
Gunakan pula benda-benda yang tersedia di rumah untuk membantu mereka menyusun kalimat.
Mereka juga akan semakin antusias jika belajar melibatkan aktivitas fisik dan tidak selalu duduk.
Anak kinestetik sering menggunakan bahasa tubuh saat berkomunikasi dan mungkin menunjukkan emosi atau pemikiran melalui gerakan mereka.
Mereka umumnya senang mengungkapkan diri melalui gerakan, seperti dalam tari atau akting.
Banyak anak kinestetik memiliki energi yang tinggi dan sering terlibat dalam aktivitas fisik seperti berlari, melompat, atau menari dibandingkan dengan anak-anak lainnya.
Mereka juga lebih nyaman bergerak saat berpikir dan memproses informasi.
Mereka senang bermain dengan sesuatu di tangan mereka.
Anak-anak kinestetik sering kali mahir dalam aktivitas yang memerlukan keterampilan tangan, seperti merakit mainan, membuat kerajinan, atau memainkan alat musik.
Anak kinestetik cenderung lebih senang dan lebih efektif dalam belajar melalui praktik daripada sekadar menerima informasi teoretis.
Ini karena mereka memahami konsep dengan lebih baik ketika mereka dapat merasakannya secara langsung.
Misalnya, dalam pelajaran sains, mereka mungkin lebih memahami prinsip tertentu dengan melakukan eksperimen daripada hanya membaca tentangnya.
Mereka lebih senang "melakukan" sesuatu ketimbang "mendengarkan" sesuatu.
Source: orami.co.id
Imunisasi lengkap bisa menjadi upaya mencegah pneumonia pada anak. Salah satunya dengan memberi anak imunisasi DPT dan Campak. Bagaimana kaitan vaksin tersebut dengan pneumonia? DPT adalah difteri ...
Si kecil seringkali merasa marah saat keinginan mereka tidak terpenuhi. Merasa marah bukanlah hal yang salah, apabila Si Kecil tidak mampu mengontrolemosi mereka kini saatnya Moms harus turun ...
Anak yang tumbuh cerdas dan sehat, adalah dambaan tiap orang tua. Apalagi jika pertumbuhan si kecil sudah sesuai dengan kurva dan usianya. Tapi belakangan ini, Ibumin jadi penasaran mengenai berapa...
Pada umumnya, pertumbuhan gigi bayi pertama saat ia memasuki usia 4 sampai 8 bulan. Oleh sebab itu, perawatan gigi anak harus dimulai sejak dini secara rutin guna menjaga kebersihan mulut, contohnya d...
WhatsApp ×