5 Tahapan Membantu Anak 3 Tahun Mengenali Emosi, Perlu Dibiasakan!

Jumat, 31 Mei 2024 | 13:42 WIB Penulis :


Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan emosi pada anak usia tiga tahun merupakan salah satu tahapan kritis dalam pembentukan kepribadian mereka. 

Pada usia ini, anak-anak mulai belajar mengidentifikasi dan bereaksi terhadap berbagai macam emosi, mulai dari gembira hingga frustasi. Namun, seringkali mereka belum memiliki keterampilan untuk mengenali emosi dengan baik. 

Oleh karena itu, penting bagi orangtua untuk memberikan bimbingan yang tepat dalam membantu anak-anak mengenali emosi mereka.

1. Berikan pengakuan pada emosi anak

Akan sangat membantu jika orangtua membiarkan anak-anak mengutarakan perasaan mereka. Ketika anak merasa kesal karena tidak bisa memecahkan teka-teki, Mama perlu menerimanya dan berkata “Mama melihat kamu merasa frustasi karena teka-teki ini sulit ya, sayang? Itu wajar, ya. Mari kita coba bersama-sama."

Saat anak menangis karena kehilangan mainan favoritnya, Mama bisa mengatakan, "Mama mengerti kamu sedih karena kehilangan mainan kesayanganmu. Kamu punya hak untuk merasa seperti itu. Mari kita cari solusinya bersama."

Saat anak menangis karena kehilangan mainan favoritnya, Mama bisa mengatakan, "Mama mengerti kamu sedih karena kehilangan mainan kesayanganmu. Kamu punya hak untuk merasa seperti itu. Mari kita cari solusinya bersama."

Jadi, dengan memberikan pengakuan pada emosi anak seperti itu, Mama juga dapat membantu si Kecil merasa dipahami dan didukung. Hal tersebut juga mengajarkan anak bahwa setiap emosi yang mereka alami adalah hal yang normal dan diterima.

2. Orangtua perlu bersifat empati pada anak

Untuk mendukung emosi yang diperlihatkan anak, Mama juga perlu bersikap hangat, simpatik, menerima, dan ingin tahu. Ciptakan koneksi dan tunjukkan empati kepada emosi apa pun yang dikeluarkan anak. 

Pahami sepenuhnya apa yang dikatakan anak kepada Mama terkait emosional, baik melalui bahasa tubuh, tindakan, maupun kalimat langsung. Berikan respons dengan bijak sebagai orangtua yang baik. 

Jika emosi yang dikeluarkannya bersikap negatif, Mama bisa memberikan nasihat bijak untuk melatih anak cara menangani emosi yang muncul. 

3. Memberi nama pada emosi yang dirasakan anak

Di usia tiga tahun, Mama perlu membantu anak untuk mengungkapkan tentang perasaan yang dirasakannya. Memberi nama pada emosi yang dirasakan anak menjadi langkah penting dalam membantu si Kecil memahami dan mengelola perasaan mereka. 

Misalnya, ketika anak merasa sedih karena mainan yang diinginkannya ternyata sudah terjual habis di toko, Mama bisa menenangkan dengan mengatakan “Adek, tidak papa sedih.  Tapi sebagai gantinya bagaimana jika kita beli mainan yang lain?”

Dengan memberi nama pada emosi seperti cemas, marah, sedih, atau bahagia, Mama secara tidak langsung membantu anak mengidentifikasi perasaan yang dirasakannya. 

4. Memberikan batasan dan panduan untuk anak mengelola emosinya

Dalam upaya membantu anak mengatur diri sendiri dan menghadapi emosi-emosi tak terduga, penting bagi orangtua untuk menetapkan batasan. Sebab, anak juga perlu memahami betapa pentingnya mengikuti aturan yang berlaku. 

Aturan yang dibuat pun juga akan membuat anak tetap aman dan tidak merugikan orang lain. Misalnya, jika anak sedang marah, Mama harus segera menasihati bahwa anak tidak boleh marah sambil melempar barang-barang yang ada di sekitarnya. 

Beritahu anak kalau melempar barang atau memukul teman tidak akan membuatnya merasa lebih baik. Bukannya lega, anak justru akan dihantui rasa bersalah serta emosi negatif lainnya. 

5. Membiasakan anak menyebutkan emosinya dalam rutinitas sehari-hari

Anak bisa karena terbiasa. Mama dapat mendukung anak dengan cara menyebutkan jenis-jenis emosi dalam rutinitas sehari-hari, misalnya:

  • Gunakan kartu perasaan untuk menanyakan kabar anak ketika mereka tiba, libatkan pengasuh jika memungkinkan.
  • Ketika ada konflik, gunakan kartu perasaan bagi anak-anak untuk mengekspresikan dan menyebutkan emosi yang dirasakan. 
  • Ketika sedang bernyanyi, mendongeng, atau kegiatan lainnya yang menyebutkan emosi tertentu (marah, sedih, bahagia), libatkan penggunaan kartu perasaan untuk membuat anak semakin paham dengan emosi tersebut. 
  • Jika anak masih malu mengutarakan perasaannya, Mama bisa membujuknya dengan mengungkapkan terlebih dahulu tentang apa yang dirasakan. Dengan cara ini, Mama dan anak juga bisa semakin terhubung karena saling mengutarakan emosi masing-masing. 

Jadi, itu dia 5 tahapan membantu anak 3 tahun mengenali emosi. Semoga bisa diterapkan kepada si Kecil ya, Ma!

Source: popmama.com

 

Artikel Lainnya

Mungkin Bunda pernah mengalami ini. Ketika menerima telepon, anak berusaha mengambil telepon dari Bunda, menutup mulut Bunda agar tidak bisa bicara, atau bahkan rewel minta ini-itu. Jangan langsung me...

Lorem ipsum, or lipsum as it is sometimes known, is dummy text used in laying out print, graphic or web designs. The passage is attributed to an unknown typesetter in the 15th century who is thought t...

Enggak cuma orang dewasa, anak usia sekolah juga bisa stres lho, Moms! Mirisnya, stres pada anak sering kali tidak mudah dikenali dan anak tidak berani menceritakan perasaannya ke Moms dan Dads. Untuk...

Moms, ada begitu banyak tipe kecerdasan yang dimiliki anak. Salah satunya, kecerdasan kinestetik. Sama seperti namanya, anak dengan kecerdasan kinestetik memiliki kemampuan memproses informasi seca...

WhatsApp ×
Hai Mom, kami siap membantu anda ..
Kami Online
Senin - Jumat : 08:00 - 17:00 WIB
Minggu & Hari Besar kami LIBUR
Jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kami 🤗
......................................................