Kolesterol Tinggi pada Anak, Ini Penyebab dan Pengobatannya

Selasa, 26 November 2024 | 14:58 WIB Penulis :


Kolesterol tinggi adalah salah satu masalah kesehatan yang kerap dialami oleh orang dewasa. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan masalah kesehatan tersebut juga terjadi pada anak-anak. Kolesterol tinggi pada anak diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya berbagai gangguan kesehatan, seperti penyakit jantung hingga stroke, ketika ia beranjak dewasa. Mari pahami lebih lanjut mengenai kolesterol tinggi pada anak selengkapnya dalam artikel berikut ini.

 

Penyebab Kolesterol Tinggi pada Anak
 

Kolesterol adalah zat lemak yang dapat diproduksi secara alami oleh tubuh, maupun didapatkan dari mengonsumsi makanan hewani, seperti susu dan daging. Pada dasarnya, kolesterol dibutuhkan oleh tubuh untuk membangun jaringan tubuh, memproduksi sejumlah hormon, serta menghasilkan vitamin D. Namun, apabila kadarnya melebihi batas normal, kolesterol dapat memicu berbagai masalah kesehatan. 

 

Secara umum, kolesterol tinggi lebih berisiko dialami oleh orang dewasa. Sebab, seiring dengan bertambahnya usia, kemampuan hati untuk membuang kolesterol jahat (low density lipoprotein atau LDL) menjadi menurun. Meski demikian, dalam beberapa kondisi, kolesterol tinggi juga bisa terjadi pada anak-anak.

 

Pada dasarnya, terdapat tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap peningkatan risiko kolesterol tinggi pada anak, di antaranya sebagai berikut:

  1. Faktor genetik. Anak yang memiliki keluarga dengan riwayat kolesterol tinggi lebih berisiko mengalami kondisi serupa.
  2. Menjalani gaya hidup tidak sehat, seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak secara berlebihan dan jarang berolahraga.
  3. Mengalami obesitas.

Di samping itu, kolesterol tinggi pada anak juga bisa dipicu oleh kondisi medis lain, seperti:

  1. Diabetes.
  2. Penyakit ginjal.
  3. Penyakit tiroid tertentu.

Diagnosis Kolesterol Tinggi pada Anak
 

Kolesterol tinggi pada anak biasanya tidak menunjukkan gejala tertentu, sehingga kerap tidak disadari oleh penderitanya. Namun, diagnosis kondisi ini umumnya dapat ditegakkan melalui tes darah sederhana. Pemeriksaan ini penting dilakukan, terutama pada anak-anak yang memiliki faktor risiko kolesterol tinggi. Melalui pemeriksaan darah, dokter dapat mengetahui beberapa kadar beberapa jenis kolesterol berikut ini:

  1. Kolesterol LDL: Sering disebut “kolesterol jahat”, karena jika kadarnya terlalu tinggi, LDL dapat menumpuk pada dinding pembuluh darah.
  2. Kolesterol HDL: Sering disebut “kolesterol baik”. Kolesterol HDL berfungsi mengembalikan kolesterol berlebih ke organ hati untuk dibuang atau dikeluarkan dari tubuh.
  3. Trigliserida: Jenis lemak yang umumnya digunakan sebagai sumber energi. Namun, apabila jumlahnya melebihi batas normal, trigliserida dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.
  4. Kolesterol non-HDL: Gabungan dari LDL dan trigliserida di dalam tubuh, serta termasuk VLDL (very-low-density lipoprotein).
  5. Kolesterol total: Gabungan dari HDL, LDL, serta trigliserida per desiliter darah.

 

Dilansir dari Medline Plus, kadar kolesterol normal pada individu berusia 19 tahun ke bawah adalah sebagai berikut:

  1. Kolesterol total: <170 mg/dL.
  2. Non-HDL: <120 mg/dL.
  3. LDL: <110 mg/dL.
  4. HDL: >45 mg/dL.

 

Artinya, jika kadar kolesterol total, non-HDL, dan LDL melebihi angka tersebut dan HDL berada di bawah batas normal, anak dapat dikatakan mengalami kolesterol tinggi.

 

Pada anak dengan faktor risiko kolesterol tinggi, direkomendasikan untuk memeriksa kadar kolesterol berkala sejak usia 9–11 tahun. Bahkan, pada kasus tertentu, misalnya ketika orang tua memiliki riwayat penyakit jantung atau stroke, anak dapat diperiksa sejak usia 2 tahun.

 

Lalu, skrining selektif direkomendasikan untuk anak-anak dengan kondisi sebagai berikut:

  1. Memiliki indeks massa tubuh (IMT) lebih dari normalnya (persentil 95 pada usia 2–8 tahun, atau persentil 85 pada usia 12–16 tahun).
  2. Menderita diabetes tipe 1 atau 2
  3. Menderita darah tinggi.
  4. Memiliki riwayat keluarga dengan kolesterol tinggi atau riwayat keluarga dengan penyakit jantung dini. Disebut penyakit jantung dini jika terjadi sebelum usia 55 tahun pada pria atau 65 tahun pada wanita. 

 

Skrining pertama direkomendasikan setelah usia 2 tahun, tetapi tidak lebih dari usia 10 tahun. Anak-anak di bawah usia 2 tahun belum disarankan untuk menjalani skrining kolesterol. Jika didapatkan hasil normal pada pemeriksaan kadar kolesterol saat puasa, anak dapat melakukan skrining ulang pada 3–5 tahun mendatang.

 

Pengobatan Kolesterol Tinggi pada Anak
 

Pengobatan kolesterol tinggi pada anak utamanya dilakukan dengan memperbaiki pola hidup sehat yang akan melibatkan seluruh keluarga pasien. Dalam hal ini, beberapa pola hidup sehat yang perlu diterapkan untuk membantu menangani kolesterol tinggi pada anak adalah:

  1. Menjaga berat badan ideal.
  2. Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang.
  3. Mengonsumsi jenis lemak tak jenuh, misalnya minyak kanola, minyak zaitun, almond, tuna, salmon, dan selai kacang. 
  4. Mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh, misalnya gorengan.
  5. Membatasi konsumsi makanan tinggi gula.
  6. Mengonsumsi serat minimal 25–30 gram per hari (setara 100 gram gandum utuh yang belum dimasak, atau 2–3 porsi buah). Serat dapat bertindak sebagai “spons” pada lemak yang bisa membantu menurunkan kadar kolesterol.
  7. Rutin berolahraga, misalnya jalan cepat, bersepeda, jogging, dan aerobik. Olahraga dapat dilakukan dengan durasi yang dianjurkan oleh dokter.

 

Di samping itu, dokter mungkin juga akan mempertimbangkan penggunaan obat-obatan untuk menangani kolesterol tinggi pada anak apabila perubahan gaya hidup tersebut tidak efektif menurunkan kadar kolesterol. Namun, hal tersebut dapat dilakukan apabila anak mengalami beberapa kondisi berikut ini:

  1. Setidaknya berusia 10 tahun.
  2. Memiliki kadar kolesterol LDL lebih dari 190 mg/dL, meski sudah enam bulan melakukan perubahan pola makan dan olahraga.
  3. Memiliki kadar kolesterol LDL lebih dari 160 mg/dL dan berisiko tinggi terkena penyakit jantung.
  4. Mengalami hiperkolesterolemia familial, yaitu kelainan bawaan yang menyebabkan kadar kolesterol dalam darah melebihi batas normal.

 

Itu dia penjelasan lengkap mengenai penyebab dan pengobatan kolesterol tinggi pada anak yang penting untuk dipahami. Namun, perlu diketahui bahwa informasi di atas hanya untuk tujuan edukasi dan tidak dapat menggantikan diagnosis, konsultasi, dan saran medis dari tenaga medis profesional.

 

Apabila si Kecil mengalami kondisi yang mengarah pada kolesterol tinggi, disarankan untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Pediatri (Anak) guna memperoleh diagnosis yang akurat serta penanganan yang tepat.

 

Sebagai informasi, tahapan pemeriksaan dan pengobatan yang dijalani pasien bisa bervariasi, tergantung pada fasilitas kesehatan yang tersedia di setiap rumah sakit. Namun, tenaga medis profesional akan memastikan tindakan medis yang dilakukan tetap sesuai dengan kondisi kesehatan pasien.

Source: siloamhospitals.com

 

Artikel Lainnya

Melepeh makanan merupakan proses dari belajar makan. Namun, bagaimana kalau hal ini dilakukan secara terus menerus hingga anak menginjak usia di atas 10 bulan? Sahabat Fimela tidak perlu khawatir kare...

Menginjak usia balita mulai dari 1 hingga 5 tahun, anak sudah bisa melakukan banyak hal dan bisa dibilang sedang aktif-aktifnya. Moms pasti tahu banget nih ada aja kelakuan buah hati yang bikin g...

Berhenti sejenak dari pekerjaan yang padat dan nikmati musim liburan dari natal hingga tahun baru! Bagi kamu yang ingin menghabiskan jatah cuti, libur sekolah maupun kuliah, inilah saat yang tepat unt...

Apa yang biasanya Bunda lakukan untuk melatih perkembangan bahasa anak? Mengajak anak berbincang-bincang merupakan salah satu cara paling mudah untuk menstimulasi kemampuan bahasanya. Dikutip dari The...

WhatsApp ×
Hai Mom, kami siap membantu anda ..
Kami Online
Senin - Jumat : 08:00 - 17:00 WIB
Minggu & Hari Besar kami LIBUR
Jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kami 🤗
......................................................