Membiarkan balita Mommy bermain bersama dengan teman-teman seumurannya dengan pengawasan memang penting Mom. Dengan bermain bersama, anak dapat belajar untuk berinteraksi, bersosialisasi, dan berbagi ...
Rabu, 08 Januari 2025 | 10:04 WIB Penulis :
Meski menangis menjadi tanda bahwa emosi Si Kecil sedang meluap, Bunda tetap perlu menggunakan waktu ini untuk mengajarkan anak tentang keterampilan sosial tanpa merusak perasaan mereka atau membahayakan kesehatan mentalnya.
"Anak menangis karena itu satu-satunya cara untuk memberi sinyal bahwa mereka membutuhkan sesuatu. Namun, terkadang kita semua merasa kewalahan dengan perasaan kita dan menangis menjadi sinyal bahwa kita membutuhkan penghiburan serta bantuan. Itu bukan hal yang buruk," papar psikolog anak, Eileen Kennedy-Moore, mengutip dari laman Yahoo Life.
Menurut salah satu studi Kesehatan Harvard di tahun 2021, ada alasan ilmiah mengapa anak merasa lebih baik setelah menangis. Manfaat dari tangisan ini pun sudah ada sejak zaman Yunani dan Romawi kuno.
Menangis dianggap sebagai simbol pemurnian yang secara psikologis digambarkan sebagai 'melepaskan semua yang dirasa'. Ini memungkinkan anak untuk melepaskan stres dan rasa sakit emosional.
Meski begitu, terkadang anak-anak juga belajar menangis secara manipulatif untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau menghindari hukuman. Dengan begitu, tangisan ini akan menimbulkan rasa kasihan.
Ketika anak terlalu sering menangis dengan berbagai penyebab, ada dampak psikologis yang mungkin terlihat. Seperti apa dampaknya?
Dilansir dari laman Psychology Today, ada beberapa dampak psikologis yang terjadi pada anak ketika sering menangis. Berikut ini Bubun bantu rangkumkan deretannya:
Profesor psikologi, Darcia F. Narvaez Ph.D, menjelaskan bahwa ketika anak sering menangis dan dibiarkan sendirian, mereka akan belajar untuk menutup diri. Tidak hanya itu, mereka juga akan berhenti menumbuhkan rasa percayanya.
"Jika anak dibiarkan menangis sendirian, mereka belajar untuk menutup diri ketika menghadapi tekanan yang besar. Mereka berhenti bertumbuh, berhenti merasa, dan berhenti percaya," ujarnya.
Ketika anak terus menangis dan mereka merasa diabaikan, mereka akan mengembangkan perasaan akan ketidakpercayaan terhadap hubungan dan dunia. Mereka juga mungkin akan menghabiskan seumur hidupnya mencoba mengisi kekosongan batin ini, Bunda.
Ketika anak menangis terus menerus, tentunya Bunda dan Ayah yang berperan sebagai pengasuh turut akan terdampak. Perlu dipahami bahwa respons orang tua dalam menanggapi tangisan anak akan memengaruhi kondisi mental Si Kecil.
Respon atau tanggapan orang tua ketika anak menangis berhubungan erat dengan kecerdasan, empati, kurangnya rasa depresi, pengaturan diri, hingga kompetensi sosial.
"Pentingnya daya tanggap pengasuh adalah pengetahuan umum dalam psikologi perkembangan," ujar dr. Darcia.
Source : Haibunda.com
Membiarkan balita Mommy bermain bersama dengan teman-teman seumurannya dengan pengawasan memang penting Mom. Dengan bermain bersama, anak dapat belajar untuk berinteraksi, bersosialisasi, dan berbagi ...
Dunia kembali digemparkan dengan penyakit hepatitis akut yang menyerang anak-anak. Penyakit ini diduga telah masuk ke Indonesia setelah tiga anak dilaporkan meninggal dunia di RSCM Jakarta akibat teri...
1. Beri contoh lewat kegiatan Bunda sehari-hari. Seperti selalu mengatakan "tolong" ketika menyuruh dia mengambil sesuatu dan mengucapkan "terima kasih" sesudahnya." Biasakan ...
PENYAKIT usus buntu umumnya sering terjadi pada anak-anak usia sekolah antara usia enam tahun ke atas. Kondisi ini terjadi ketika organ usus buntu mengalamai infeksi atau meradang. Usus buntu...