Covid-19 masih terus mengintai dunia. Dalam beberapa bulan saja, puluhan ribu nyawa melayang karenanya. Meski penyakit ini lebih rentan berisiko terhadap orang lanjut usia, para orangtua yang memiliki...
Rabu, 18 Januari 2017 | 11:42 WIB Penulis : Erni Wulandari
Gangguan psikosomatis atau somatisasi adalah gangguan psikis yang menyebabkan gangguan fisik. Dengan kata lain, psikosomatis adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh program pikiran negatif dan atau masalah emosi seperti stress, depresi, kecewa, kecemasan, rasa berdosa, dan emosi negatif lainnya. Gangguan ini tidak hanya terjadi pada orang dewasa, anak-anak pun bisa mengalaminya.
Bisa jadi, anak mengalami psikosomatis. Psikosomatis mengacu pada kondisi fisik yang ditimbulkan oleh salah-suai (maladjustment) secara psikologis. Maladjustment merunjuk kepada penyesuaian diri individu yang buruk dengan kondisi dirinya sendiri dan situasi lingkungannya.
Namun sebelumnya, Bunda harus memastikan, apakah ia memang benar sakit perut atau hanya alasan saja. Perhatikan bahasa tubuhnya, atau bawa ia ke dokter saat sakit perut. Namun, apakah ia benar-benar mengalami psikosomatis atau tidak, itu tidak perlu dipersoalkan.
Kegelisahan dan keluhan setiap akan berangkat sekolah sudah cukup memperlihatkan ada sesuatu yang menurut anak terjadi di sekolah, dan hal itu tidak menyenangkan. Coba ajak anak berbicara saat ia tenang, untuk mencari tahu apa yang terjadi. Bentuk pertanyaan jangan langsung mengarah pada ‘mengapa sakit perut’ atau ‘ada apa di sekolah, tetapi lebih kepada eksplorasi terhadap berbagai aktivitasnya di sekolah. Proses eksplorasi ini akan memakan waktu, karena Bunda perlu mengetahui secara jelas suatu kejadian, dan bagaimana anak mepersepsikannya. Kejadian bisa jadi merupakan suatu peristiwa yang terkait dengan teman sekelas, lawan jenis, guru, mata pelajaran tertentu.
Jika ia sulit bercerita, Bunda bisa menemui guru kelasnya untuk mencari tahu perilaku anak di kelas, hubungannya dengan teman, atau apa pun yang selama ini menjadi pengamatan guru. Ingat, perasaan anak tentang pengalamannya itu bersifat subjektif. Ungkapan yang bertendensi meremehkan, seperti, “Ah, cuma begitu saja,” atau “Jangan dipikirin, deh,” harus dihindari agar anak merasa nyaman terbuka. Bila ia cukup terbuka dan sering curhat, ajak berdiskusi untuk menemukan hal yang mengganggu.
Bila sumber kegelisahannya sudah ditemukan, coba konfirmasikan kepada anak, apakah ia memang merasakan hal itu, dan bantu ia menyelesaikan. Setelah semua langkah dilakukan, namun tidak ada perubahan sama sekali, baru ajak ia ke psikolog.
Covid-19 masih terus mengintai dunia. Dalam beberapa bulan saja, puluhan ribu nyawa melayang karenanya. Meski penyakit ini lebih rentan berisiko terhadap orang lanjut usia, para orangtua yang memiliki...
Naluri seorang Mama sudah pasti ingin melindungi anak dari berbagai hal berbahaya. Tapi yang namanya hal tak terduga pasti pernah terjadi, terutama soal kesehatan anak. Salah satu hal tak terduga y...
Selalu bermain dengan orang tuanya atau keluarga, sehingga saat bertemu orang lain dia akan takut atau malu. Kondisi tersebut kerap membuat Ayah & Bunda khawatir kelak si kecil akan sulit beradapt...
Anak di usia 2 tahun keatas, waktu yang direkomendasikan hanya 1-2 jam sehari. Namun dalam keseharian banyak ditemui anak yang menghabiskan banyak waktu dengan gedgetnya. Padahal belum tentu apa yang ...
WhatsApp ×