Menjelaskan Rasa Kehilangan Pada Balita

Rabu, 08 Januari 2020 | 10:12 WIB Penulis : Erni Wulandari


Kehilangan orang yang sangat disayangi bukan hal yang mudah. Anak-anak yang belum paham dengan arti kematian mungkin akan merasakan hal yang sama. Bagaimana menjelaskan kematian ke anak yang masih kecil?

Memang tak ada yang tahu kapan usia akan berakhir, apalagi jika itu dadakan. Namun, akan sangat membantu apabila anak belajar kematian lewat kejadian sehari-hari.


Barbara Coloroso ahli parenting mengatakan kematian menyentuh semua anggota keluarga dan pastinya akan berpengaruh besar. Bahkan balita bisa berduka karenanya, namun mereka mungkin belum bisa mengungkapkannya.


"Tapi mereka memiliki perasaan dan intuisi dengan kehilangan itu," katanya dalam buku Parenting Through Crisis.

Coloroso mengatakan, anak-anak bisa diajak mengamati kehidupan setiap hari, dan membicarakan soal kematian dengan jujur dan jelas. Ini termasuk mempersiapkan menghadapi kematian yang tak terduga.

Kalau anak-anak bertanya apa itu kematian atau apakah semua makhluk hidup akan mati, Coloroso bilang ini akan lebih mudah untuk menjawabnya dengan tenang dan jelas saat momen mengubur ikan yang mati di halaman, ketimbang saat kita sedang memakamkan kakek atau anggota keluarga tercinta.

Untuk mengajarkan arti kematian ke anak, Coloroso mengatakan jangan pernah mengatakan ke anak usia 5 tahun bahwa burung yang mati itu sedang tidur siang atau ikan mas mati sedang tidur.

Menurutnya, semua anak yang ditinggal meninggal anggota keluarga merasa tak berdaya dan tak menentu. Anak ini memiliki cara sendiri untuk menyesuaikan diri dengan kehilangan. Namun berbeda-beda di setiap usia.

Bryan Mellonie dan Robert Ingpen dalam buku The Beautiful Way to Explain Death to Children mengatakan anak 4 tahun mulai mengerti bahwa semua yang hidup memiliki awal dan akhir dan ada kehidupan di antaranya.

Sedangkan pada anak usia 5 tahun, anak sudah tahu kematian itu ada penyebabnya. Atau tubuh yang sudah tak bisa bergerak dan bernapas, serta sifanya universal terjadi ke semua makhluk hidup.

Psikolog anak dari Tiga Generasi Anastasia Satriyo yang akrab disapa Anas pernah mengatakan anak perlu tahu berita meninggalnya orang tuanya.

Lalu bisa kita jelaskan ke anak bahwa orang tua atau kerabat yang meninggal sudah tidak bernapas lagi dan jiwanya sudah tidak di dalam badan sehingga badannya kita kubur atau bakar, menurut kepercayaan masing-masing. Lalu, yang bersangkutan memang secara fisik mereka sudah tidak bersama kita lagi tapi kita bisa tetap mendoakan.

Jadi dalam menghadapi anak yang sedang berduka, Anas pesan gunakan verbalisasi emosi dalam obrolan. Misal, 'Mommy merasa sedih nenek sudah meninggal. Kamu ngerasa gimana? Sedih juga enggak?'. Dan perlu diingat orang dewasa perlu paham kalau memahami sedih dan kehilangan butuh proses bukan seperti minum air segelas langsung hilang.
 

 

Source: HaiBunda

Artikel Lainnya

Ketika anak mengeluarkan ingus, maka orang tua sering tertukar mengira si kecil terkena pilek, influesza atau common cold. Karena ketiga kondisi ini masih sering disalahartikan karena kondisi nya miri...

Masa pandemi tak pelak membuat banyak orang stres, tak terkecuali anak dan remaja. Tak ada aktivitas pergi ke sekolah, tak ada agenda berlibur, atau bermain bersama teman-teman rentan membuat ana...

Usia anak-anak menjadi momen di mana mereka belajar untuk mengenal banyak hal. Mulai dari benda-benda baru hingga pengalaman baru. Seringkali mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan satu hal....

Demi gigi sehat, berapa banyak pasta gigi yang harus digunakan setiap kali menyikat gigi? Umumnya, orang-orang akan menggunakan pasta gigi sepanjang bulu sikat. Namun, b...

WhatsApp ×
Hai Mom, kami siap membantu anda ..
Kami Online
Senin - Jumat : 08:00 - 17:00 WIB
Minggu & Hari Besar kami LIBUR
Jika ada pertanyaan silahkan menghubungi kami 🤗
......................................................